Kamis, 20 Oktober 2011

THE ICEBERG APPROACH OF LEARNING FRACTIONS IN JUNIOR HIGH SCHOOL: Teachers’ Simulations of Prior to Lesson Study Activities



By: Dr. Marsigit, M.A
reviewed by: Ika Kusumawati (ika-kusumawati.blogspot.com)

Standar Nasional pengajaran matematika adalah kemampuan minimum yang harus dikuasai siswa. Pada tingkat SMP, matematika mendorong siswa untuk berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, dan mampu berkolaborasi dengan yang lain. Dalam proses pembelajaran matematika, sebaiknya siswa diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi masalah kontekstual dan realistis. Tujuan pembelajaran matematika di SMP meliputi: (1) memahami konsep matematika, menjelaskan hubungan dan menerapkannya dalam pemecahan masalah, (2) mengembangkan keterampilan berpikir untuk mempelajari pola dan karakteristik matematika, memanipulasinya untuk generalisasi, bukti, ide-ide, dan proporsi matematika, (3) mengembangkan keterampilan memecahkan masalah yang meliputi memahami masalah, menguraiukan model matematika, memecahkan masalah, dan memperkirakan hasil.

Matematika harus dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu upaya untuk mencapainya, adalah dengan konsep gunung es pada pengajaran pecahan di tingkat SMP.  Gunung es dapat menjad titik awal dalam wujud pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata dengan cara melibatkan siswa secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Emilie naiser A, dkk (2009) menunjukkan bahwa dalam mengajar materi pecahan, guru perlu : (1) memastikan siswa telah menguasai materi prasyarat, (2) memperkenalkan materi dengan instruksi singkat, (3) mengenalkan instruksi melalui materi yang nyata, (4) memberi kesempatan berlatih dan penugasan, (5) menggunakan permasalahan yang bervariasi agar dapat menyimpulkan secara general, (6) memberikan instruksi mengenai perbedaan antar permasalahan, (7) membimbing siswa, dapat melalui panduan maupun demonstrasi.

Pada awalnya tidak mudah bagi guru untuk mengembangkan materi secara nyata. Guru perlu memanipulasi materi sedemikian sehingga mampu mewakili materi tentang pecahan. Banyak guru yang membawa pemahaman informal tentang pecahan ke dalam model gunung es. Dengan model gunung es, guru berharap ada kecenderungan bahwa siswa tidak hanya memandang pecahan secara keseluruhan tetapi mampu memandangnya sebagai proporsi bilangan rasional. Sayangnya, meskipun dengan model gunung es siswa mampu membangun konsep mereka sendiri, tetapi masih saja tedapat kesulitan bagi siswa untuk memecahkan masalah  secara simbolis. Siswa akan lebih mudah bila masalah yang ada dikaitkan dengan kehidupan nyata. Para guru mengakui bahwa merepresentasikan pecahan merupakan hal yang abstrak dan sulit bagi siswa, sehingga model gunung es dapat menjadi salah satu pendekatan yang penting dan berguna dalam pengajaran pecahan di SMP.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar