Kamis, 29 September 2011

LESSON STUDY ON MATHEMATICAL THINKING: DEVELOPING MATHEMATICAL METHODS IN LEARNING THE TOTAL AREA OF A RIGHT CIRCULAR CYLINDER AND SPHERE AS WELL AS THE VOLUME OF A RIGTH CIRCULAR CONE OF THE INDONESIAN 8TH GRADE STUDENTS



by: Marsigit, Mathilda Susanti, Elly Arliani (UNY, Indonesia)
reviewed by: Ika Kusumawati (ika-kusumawati.blogspot.com)


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui usaha siswa dalam mencari luas permukaan tabung, bola dan volume kerucut. Rancangan penelitiannya meliputi persiapan, pelaksanaan, dan refleksi. Pada awalnya guru membentuk pemahaman siswa dengan cara mengajukan pertanyaan dan memberikan model tabung, bola, dan kerucut lalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati, mengidentifikasi komonen-komponennya, dan mendefinisikannya. Kemudian guru membagi kelas dalam beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok berdiskusi tentang permasalahan yang berkaitan dengan tabung, bola, dan kerucut. Bekerja secara kelompok memicu siswa untuk mengembangkan pemikiran analogis.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan siswa sangat aktif, antusias, dan termotivasi untuk mengikuti pelajaran matematika tersebut. Krygowska (1980) dalam Bonomo MFC mengatakan bahwa matematika harus diterapkan pada situasi nyata. Sehingga permasalahan-permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan lebih mudah jika dikaitkan dengan kehidupan nyata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru memiliki peran penting untuk mendorong siswa dalam mengembangkan metode matematika, yang meliputi berpikir induktif, analogis, deduktif, integratif, berkembang, abstrak, sederhana, generalisasi, dsb. Namun masih terdapat kesulitan bagi siswa untuk berlatih menggunakan prosedur metode matematika. Secara umum, hasil lesson studi di atas menyatakan bahwa metode matematika dapat diterapkan melalui kegiatan:
1.     pembentukan pemahaman siswa
2.     pembentukan perspektif siswa
3.     pencapaian solusi/kesimpulan

KEGIATAN PENELITIAN SEBAGAI USAHA UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU MATEMATIKA



By: Dr. Marsigit
(Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA, UNY)
reviewed by: Ika Kusumawati (ika-kusumawati.blogspot.com)

Mathematics learning research is consists of qualitative research and quantitative research. Quantitative research view that study mathematics can be measured. Whereas qualitative research, it’s observe about of mathematics learning process and the environment of mathematics learning. Mathematics learning can be drawn in hermeneutic cycle. Hermeneutic cycle show that mathematics learning and it’s components are interrelated.

There are two factors of practice mathematics learning, that are the learning and the value. If teacher want to construct education systematically, he/ she can use historical research. There are many research, such as descriptive research, it is to describe the situation and the events of mathematics learning. Development research is to investigate the growth of students. All of them need regularly plan so the research can be success.

Perception about mathematics character is influence of mathematics learning. Students don’t like mathematics because of the mathematics learning method. So, teacher’s role is very important. How to manage class is a part of teacher’s role. In Elementary School, Junior High School, and Senior High School the materials of mathematics are facts, concepts, logic, algorithm, problem solving and investigation. Shigeo Katagiri (2004) say that mathematics in school consists of attitude, method, and content. To apply that, teacher must to provide or make an interesting class, use various methods, and understand students’ characteristic.
To make a change of mathematics education, mathematics research is important. So before the class is begins, teacher should to:
1.     make a mathematics environment plan
2.     develop students’ social environment
3.     make mathematics activities plan.

“LOOKING FOR ALTERNATIVE MODELS IN REFERENCE TO JAPANESE EDUCATIONAL EXPERIENCES” MATH PROGRAMS FOR INTERNATIONAL COOPERATION IN INDONESIA



by: Marsigit
(FMIPA-UNY)
reviewed by: Ika Kusumawati (ika-kusumawati.blogspot.com)

Secara umum, sistem pengajaran di Indonesia masih terpusat pada guru, sehingga siswa cenderung pasif. Untuk mengatasinya, diperlukan peran guru untuk meningkatkan keterampilan siswa, terutama dalam matematika. Hasil studi menyebutkan bahwa prestasi siswa dalam matematika masih cenderung rendah. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, seperti dari pendidik masih banyak input pendidik yang memiliki potensi rendah, guru kurang memahami kurikulum, guru masih menggunakan metode konvensional, dan menggunakan satu buku acuan yang dianggapnya paling baik karena diterbitkan oleh penerbit tertentu.. Dalam hal penilaian, guru cenderung menilai siswa dari aspek kognitif saja.
Upaya untuk menanggulangi masalah di atas adalah dengan membentuk kerjasama, seperti JICA sebagai contoh bentuk kerjasama Indonesia-Jepang. Bentuk kerjasama tersebut berupa mengadakan uji coba (piloting) yang mengacu pada pengembangan instrumen, metode pengajaran, model bahan ajar, dan sistem evaluasinya. Dari haisl uji coba tersebut, siswa mengalami peningkatan prestasi, guru juga mendapatkan pengalaman sehingga dapat menerapkan metode pengajaran yang lebih bervariasi, seperti memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Sayangnya, semua itu perlu proses sehingga tidak mungkin guru berpindah metode pengajaran secara instan.
Sedangkan pembelajaran matematika di Jepang lebih mengau pada keterampilan dan kemampuan siswa. Guru lebih menekankan pengajaran dan pemahaman dibanding perhitungan dengan mengutamakan siswa yang harus aktif. Di Jepang terdapat komite yang mengawasi penggunaan buku teks/ bahan ajar. Di Jepang, penilaian dilakukan dengan cara pemeriksaan dan pengamatan terhadap kegiatan siswa dan memperhatikan kesalahan siswa. Gaya mengajar di Jepang didasarkan pada pemecahan masalah. Jepang juga menggunakan penelitian tindakan kelas sebagai alternatif peningkatan mutu pembelajaran, yang bekerjasama dengan professor dari universitas.
Hal positif dari Jepang yang dapat dicontoh antara lain:
1.     rata-rata kemampuan guru dan kualitas kelas relatif tinggi
2.     desain pengajaran yang tepat
3.     lingkungan dan kondisi pendidikan cenderung homogen
4.     guru yang rajin
5.     prinsip kesetaraan
6.     tanggung jawab guru yang tinggi
7.     adanya perpindahan guru ke sekolah lain dalam jangka waktu tertentu.
         

Kamis, 22 September 2011

MEMANFAATKAN MICROSOFT 2007 SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN GEOMETRI DI SMP

by: Dr. Marsigit, M.A. (Dosen Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA UNY)
reviewed by: Ika Kusumawati (ika-kusumawati.blogspot.com)


Microsoft word 2007 is simple and very easy to access it, because this software is available in computer with new edition. Microsoft word 2007 is equipped with SmartArt icon, so we can make various graphs, geometry planes, and give animation and text to the graphs. To make a basic plane, we can choose Insert menu then click on Shape button. There are various geometry planes such as triangle, square, circle, etc. To make a plane with SmartArt, we just click insert menu then select SmartArt icon and choose the layout that we want.

Microsoft word 2007 is one of media in mathematics learning, especially we can use it to teach Junior High School’s students. In Autoshapes menu, there are many planes, to make one of them, we just click on the figure and drag it in the worksheet of Microsoft word 2007. In geometry there are three kinds of triangle, that are right triangle, obtuse triangle, and acute triangle. To make right triangle, we can divide square in two parts with the same size, we divide it in diagonal. To make obtuse triangle, we use parallelogram. To make acute triangle, we use rhombus and divide in diagonal so become two parts with the same size.

To make a polyhedral we choose 3D icon in drawing toolbar menu. How to determine the volume and the surface area? We can determine volume refer to prism. The volume is the base area multiply with the height. So the volume of cylinder is pi x r2 x h (h is the height of cylinder).  Microsoft word 2007 also help teacher in transformation. Transformation is consist of translation, rotation, reflection, and dilatation. Translation in create a new shape with the same size but we drag it from the first shape. In other word it’s called drag the shape or plane. To make it, we can drag the figure. To make a rotation, we click at the plane and choose rotation icon. To make reflection, we choose flip icon and the last is to make dilatation, we can press shift button while dragging the point of plane. With Microsoft word 2007, students learn mathematics in new method so they are not bored.

Rabu, 21 September 2011

THE EFFORT TO INCREASE THE STUDENT’S MOTIVATION IN MATHEMATICS LEARNING WITH SOME TEACHING AIDS IN JUNIOR HIGH SCHOOL 5 WATES, KULON PROGO, YOGYAKARTA, INDONESIA



by: Marsigit (Dosen Matematika FMIPA UNY) & Ida Supadmi (Guru matematika SMP N 5 Wates)

reviewed by: Ika Kusumawati (http://ika-kusumawati.blogsot.com)

Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran matematika adalah dengan membuat proses pembelajaran tersebut menjadi bermakna dan menyenangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mencoba metode pembelajaran yang baru, seperti menggunakan berbagai media dan permainan. Dengan menggunakan metode baru diharapkan siswa tidak bosan dan tertarik pada matematika karena persepsi selama ini, banyak siswa yang menganggap matematika itu sebagai pelajaran yang susah, tidak menarik, dan menakutkan. Untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator sekaligus sebagai pengajar yang mampu menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan.

          Untuk melihat seberapa besar pengaruh media dalam menciptakan pembelajaran menjadi bermakna, peneliti mengadakan sebuah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang telah disebutkan sebelumnya. Penelitian ini dilakukan di kelas II A SMP 5 Wates , Kulon Progo. Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu kuadrat dan akar kuadrat, garis sejajar, dan teorema Pythagoras. Konteks penelitian adalah menggunakan media dan konsep sehari-hari untuk mempermudah penyampaian materi. Dalam satu kelas dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok melakukan diskusi. Dengan penerapan langsung dalam konteks sehari-hari, diharapkan siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi dan mampu mengeksplorasi potensi yang dimilikinya.

          Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang menggunakan media sebagai alat bantu dalam pembelajaran matematika mampu meningkatkan motivasi siswa dan meningkatkan aktivitas siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu diharapkan para guru mampu memanfaatkan media atau menggunakan metode yang bervariasi untuk menghindari kebosanan pada siswa dan untuk memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan.

PURSUING GOOD PRACTICE OF SECONDARY MATHEMATICS EDUCATION THROUGH LESSON STUDIES IN INDONESIA


by : Marsigit (Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA, UNY)
reviewed by: Ika Kusumawati (http://ika-kusumawati.blogspot.com)

Hasil studi yang berlangsung tahun 2005 tentang Lesson Study menyebutkan bahwa telah terjadi perbaikan dalam hal pengajaran matematika. Praktik pengajaran matematika akan menjadi bermakna jika menerapkan dan mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan bersifat teori saja. Kenyataannya kegiatan pembelajaran matematika di Indonesia masih didominasi guru sehingga perlu diterapkan metode pengajaran baru yang lebih fleksibel agar siswa dapat mengeksplorasi bakatnya. Paradigma tentang guru yang sebelumnya disebutkan mengajar sekarang harus diubah menjadi belajar, maksudnya adalah siswa dan guru sama-sama belajar. Sumber belajar tidak hanya dari guru saja. Dengan kata lain guru tidak lagi sebagai pentransfer ilmu, tetapi sebagai pembangun pengetahuan siswa.
Sayangnya hal di atas tidak diimbangi dengan kurikulum yang ada. Kurikulum masih teralu padat dan terdapat ketidakcocokan antara kurikulum, tujuan, dan sistem penilaian pendidikan. Dari masalah-masalah di atas, maka dilaksanakan Lesson Study, di mana para guru bekerjasama dengan dosen dan ahli dari Jepang. Tujuannya adalah untuk mengubah paradigma tentang belajar sebagai suatu kegiatan sepanjang hayat dan untuk meningkatkan perbaikan dalam bidang pengajaran, terutama matematika. Dari kegiatan Lesson Study dapat disimpulkan bahwa guru merasa pembelajaran kelasnya semakin hidup, lesson study mampu meningkatkan keterampilan guru dan guru terdorong untuk lebih memahami inovasi-inovasi baru dalam pendidikan. Bagi siswa, siswa merasa antusias dan terlibat aktif dalam pembelajaran, adanya kegiatan di laboratorim menjadikan siswa lebih memahami materi dan meningkatkan keterampilannya. Namun dalam penerapannya masih terdapat beberapa kendala, yaitu perlunya adaptasi bagi guru sebelum mengajar, terdapat perbedaan persepsi antara guru dan dosen tentang paradigma baru, dan banyaknya siswa dalam satu kelas membuat guru tidak mampu memenuhi semua kebutuhan siswanya.
Berdasarkan uraian di atas, maka saran bagi kepala sekolah adalah mempromosikan berbagai metode pembelajaran, memberi kesempatan kepada guru untuk mengembangkan kelasnya, dan melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan lainnya. Sedangkan pemerintah perlu menciptakan kurikulum yang lebih sederhana, mendefinisikan kembali peran guru, kepala sekolah, sekolah, dan pengawas, menciptakan sistem evaluasi (penilaian) yang baik, dsb.