Minggu, 18 November 2012

Refleksi 4



Belajar Menembus Ruang dan Waktu

Berfilsafat adalah proses olah pikir, dapat berarti olah pikir sendiri, olah pikir bersama,  olah pikir bangsa, atau olah pikir dunia. Apapun olah pikirnya, berfilsafat harus menggunakan referensi, yaitu pikiran para filsuf. Berbagai penamaan aliran filsafat dapat dilihat dari obyeknya. Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Obyek itu sendiri dapat dipersempit menjadi:
1.      Obyeknya adalah alam
Orang-orang Yunani berpikir segala sesuatu yang ada di alam berasal dari apa, sehingga disebut filsafat alam.
2.      Obyeknya adalah manusia: jika obyeknya adalah manusia maka filsafatnya adalah filsafat manusia.
3.      Obyeknya adalah spiritual: jika obyeknya adalah spiritual maka filsafatnya adalah filsafat teologi
Dilihat dari letak/lokasi obyeknya, maka dapat dibagi menjadi obyek di dalam dan obyek di luar. Obyek di dalam bersifat tetap, hal ini sejalan dengan pikiran Plato dan menghasilkan filsafat idealisme sedangkan obyek di luar bersifat berubah, sejalan dengan pikiran Aristoteles dan menghasilkan filsafat realisme.
Jika dilihat dari banyaknya obyek, maka ada 3 aliran filsafat, yaitu monoisme, dualisme, dna pluralisme. Jika obyeknya satu maka filsafatnya adalah monoisme. Monoisme bearti yang benar satu, yaitu kausa prima (Tuhan). Dualisme adalah jika yang benar adalah dua, sedangkan jika yang benar banyak maka filsafatnya adalah pluralisme.
Jika kita berbicara tentang filsafat yang berkaitan dnegan olah pikir, maka kita tidak akan terlepas dari membicarakan manusia. Manusia itu tidak sempurna dan terbatas. Ketidaksempurnaan itu dapat digunakan untuk membedakan antara unsur satu dengan unsur yang lain. Manusia dapat menembus ruang dan waktu atau disebut juga mengalami perubahan. Menembus ruang dan waktu dapat dilakukan intensif, ekstensif, merujuk pikiran para fisuf, dan mengorespondensi dengan pengalaman.
Subyek yang menembus ruang dan waktu itu mengalami dimensi wantu dan dimensi ruang. Menurut Immanuel Kant, dimensi waktu itu berurutan, berkelanjutan, dan berkesatuan. Sedangkan dimensi ruang dapat terdiri dari dimensi nol, dimensi dua, dimensi tiga, dst. Jika dikembangkan dengan bahasa analog, maka dimensi ruang adalah pikiran. Ruang terdiri dari wadah dan isi. Jika kita membicarakan ruang, maka kita tidak dapat terlepas dari komponen ruang. Komponen ruang terdiri dari:
1.      Material: adalah bentuk fisik, konkrit
2.      Formatif: adalah yang dtulis secara resmi.
3.      Normatif: adalah ilmu, aturan, tata krama.
4.      Spiritual
Sedangkan ruang kaum kapitalis terdiri dari:
archaic à tribal à tradisional à fodal à modern à pos modern à pos pos modern
Orang yang berilmu dalam pendidikan matematika adalah orang yang sopan terhadap apa yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika dengan cara mengerti, menerapkan, dan mereflekikan. Sopan berarti berhadapan dengan sistem yang meletakkan unsur spiritual pada posisi yang paling atas. Namun di sisi lain, kita mengalami gejolak globalisasi yaitu berhadapan dengan negara power nowdengan 4 ujung tombak, yaitu kapitalis, utilitarism, pragmatism, dan hedonism. Kapitalis adalah aliran yang memandang segala sesuatu diukur dari laju ekonomi. Utilitarism adalah aliran yang memandang segala sesuatu dari manfaatnya. Pragmatism adalah aliran yang menghasilkan budaya serba cepat. Sedangkan hedonism adalah aliran yang mengejar rasa senang, sehingga terkadang lupa dengan norma agama. Walaupun kita mengalami gejolak dengan negara power now, namun kita tidak dapat terlepas dari negara terebut. Negara power now meletakkan agama di bagaian tradisional.
Kemudian pertanyaan yang timbul adalah siapakah yang dapat menembus ruang dan waktu? Yang menembus ruang dan waktu itu tergantung dari sudut pandang material, formal, normatif dan spiritual. Dimensi menembus waktu setiap orang itu berbeda-beda. Beberapa bekal yang perlu diperhatikan ketika kita membicarakan ruang dan waktu adalah:
1.      fenomenologi
Fenomenologi terdiri dari abstraksi dan idealisasi.
a.         Abstraksi yaitu memilih atau mereduksi.
Kodrat manusia adalah memilih dan terpilih. Manusia dapat dipandang sebagai makhluk sempurna namun juga dapat dipandang sebagai makhluk terbatas.
Husserl menciptakan rumah epocheuntuk menyimpan segala sesuatu yang tidak dibutuhkan.
b.         Idealisasi menganggap sempurna apa yang ada. Idealisasi berada dalam pikiran.
2.      fondasionalism-antifondasionalism.
Semua makhluk beragama adalah kaum fondasionalism karena meletakkan Tuhan sebagai kausa prima, yaitu sebab ang utama dan pertama. Fondamen adalah permulaan. Contoh fondamen dalam pernikahan adalah ijab qobul. Hakekat manusia adalah fondasionalism karena kegiatan manusia dapat ditelusuri kapan permulaannya.Namun dalam kenyataannya ada beberapa hal yang tidak dapat kita definisikan, misalnya menentukan kapan dimulainya pagi. Hal ini yang nantinya memunculkan antifondasionalism. Contoh antifondasionalism adalah pertanyaan kapan kita dapat membedakan besar dan kecil, jauh dekat, dsb.
Pertanyaan lainnya adalah apakah yang dimaksud dengan bilangan 2? Kita tidak dapat mendefinisikan bilangan 2.  Hal inilah yang memunculkan persoalan dalam matematika karena kita mencoba mendefinisikan bilangan 2, padahal bilangan 2 adalah intusi. Persoalan matematika bukan berasal dari yang muda tetapi dari orang-orang dewasa yang telah mengenal matematika. Anak-anak tidak memerlukan definisi bilangan 2, yang mereka butuhkan adalah contoh hal yang konkrit yang dapat ia pegang, lihat, dan rasakan. Matematika menjadi sulit karena kebanyakan guru menekankan definisi, padahal banyak unsur matematika yang berasal dari intusi.
Berbicara tentang guru, maka guru dapat dikatakan intuisionism maupun fondasionalism. Seorang guru dikatakan intuisionism karena mengajar matematika dengan metode intuisi. Seorang guru dikatakan fondasionalism karena kegiatan pembelajarannya diawali dengan berdoa. Dari perkembangan filsafat sampai zaman Auguste Compte menciptakan ilmu bidang, kita memiliki banyak ruang. Akibatnya munculah istilah-istilah baru, misalnya bahasa sandi. Istilah-istilah tersebut biasabya diproduksi oleh orang yang memiliki otoritas, karena ia akan diperhatikan dan diikuti banyak orang.

Pertanyaan:
Apakah ada batasan sejauh mana kita dapat menembus ruang dan waktu?

Minggu, 04 November 2012

Refleksi 3



Mengenal Aliran Filsafat
Penamaan aliran filsafat itu dapat dipandang dari berbagai jenis. Berikut ini akan dijabarkan tentang penamaan aliran-aliran filsafat.
1.      Aliran filsafat berdasarkan obyeknya
Misalnya obyeknya adalah benda-benda alam, maka filsafatnya adalah filsafat alam. 
2.      Aliran filsafat berdasarkan tokohnya
Misalnya aliran filsafat Hegelianism, berasal dari tokohnya yaitu G. W. F Hegel yang menyatakan bahwa segala yang ada dan yang mungkin ada itu menyejarah.
3.      Aliran filsafat berdasarkan sifatnya.
Misalnya benda dalam pikir itu sifatnya ideal, maka filsafatnya adalah idealism. Ideal itu bersifat tetap, aliran ini sesuai dengan Permenidesialism. Contoh yang tetap adalah bilangan. Bilangan itu adalah tetap, tidak berubah karena ada di dalam pikiran. Jika ia ada di luar pikiran maka bersifat plural, misalnya bilangan 5, ada 5 besar, 5 kecil, 5 tebal, 5 tipis, dan sebagainya.
4.      Aliran filsafat berdasarkan aktivitasya
Misalnya filsafat yang didasarkan pada aktivitas Socrates, yaitu bertanya, maka filsafatnya adalah dialektisism.
5.      Aliran-aliran filsafat lainnya dapat dilihat dari jumlahnya
Misalnya aliran filsafat monoism, dualism, dan pluralism. Jika yang benar satu maka filsafatnya adalah Monoisme. Yang benar adalah satu itu dapat diibaratkan dengan Tuhan, karena Tuhanlah yang Maha benar. Namun jika yang benar itu dua, maka filsafatnya adalah dualism. Yang benar itu adalah dua dapat diibaratkan dengan benar-salah, baik-buruk, dan sebagainya. Jika yang benar banyak, maka dapat diibaratkan dengan urusan dunia, maka filsafatnya adalah pluralism. Contoh pluralism adalah masyarakat Jepang yang memiliki banyak Tuhan (Dewa).
6.      Aliran-aliran filsafat dapat juga didasarkan pada cara pandangnya
Misalnya aliran filsafat subyektifism dan obyektifism. Subyektifism adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa diriku yang benar, sedangkan obyektifism adalah jika memandang orang lainlah yang benar.
Pada dasarnya manusia hidup di dunia ini tidak lepas dari kegiatan menentukan (determine), maka filsafatnya disebut determinism. Dalam kenyataannya, yang mempunyai wewenang untuk menentukan adalah penguasa. Dalam flsafat dikenal juga aliran otoritarism, yaitu jika yang benar adalah yang berkuasa. Kegiatan determine sejalan dengan reduksi (memilih). Determine dan reduksi merupakan metode yang ampuh namun dapat juga merugikan, misalnya kita memilih untuk melakukan kegiatan A, maka kegiatan ini sekaligus menghilangkan kesempatan untuk melakukan kegiatan yang lain secara bersamaan.
Filsafat itu sifatnya kompleks, sehingga tidak dapat dipelajari secara instan. Karena filsafat itu hidup, maka diperlukan metode hidup untuk mempelajarinya, yaitu dengan bergaul, berinteraksi, membaca secara terus menerus. Dengan metode hidup ini, kita dapat mempelajari filsafat lebih dalam. Karena sesungguhnya filsafat itu tidak untuk dihapalkan tetapi untuk dipahami dan didalami. Misalnya filsafatnya para dewa adalah transendenism. Filsafat ini tidak untuj dihapalkan tetapi dipahami mengapa dinamakan transendenism. Dewa adalah kata yang tak asing bagi kita. Dalam filsafat kita dapat menyebut Dewa sebagai obyek yang tingkatnya lebih tinggi dari obyek yang lain. Misalnya kita adalah dewa bagi adik kita, guru adalah dewa bagi para muridnya karena guru memiliki pengaruh pada muridnya, begitu juga yang terjadi dalam hubungan kakak-adik.
Salah satu keunikan filsafat adalah apa yang diucapkan belum tentu benar saat dituliskan, karena yang diucapkan itu bersifat terbatas. Yang diucapkan pertama kali dan yang diucapkan yang kedua itu berbeda, walaupun jika dituliskan menjadi dua hal yang sama. Itulah yang disebut hukum kontradiksi. Walaupun demikian, kita tidak perlu risau dalam mempelajari filsafat, karena yang diperlukan adalah keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Sesi pertanyaan:
1.      Pertanyaan Eko
Apakah tidak sebaiknya jika kita menggunakan istilah lain selain Dewa? Karena Dewa identik dengan Tuhan yang ada di Jepang.
Jawaban:
Istilah Dewa adalah yang paling mewakili hal tersebut. Itulah bahaya filsafat jika mempelajarinya tidak secara utuh. Filsafat harus digunakan sesuai tempat dan waktunya, misalnya saat kita mengatakan bahwa kita adalah dewa bagi adik kita. Hal ini sebaiknya jangan diberikan secara mentah, karena adik kita belum saatnya untuk memikirkan hal tersebut, yang ditakutkan nantinya adalah timbul kesalahpahaman dari kata Dewa itu sendiri.
2.      Pertanyaan Ermitasari
Apakah mungkin terjadi pertikaian diantara para Dewa?
Jawaban:
Mungkin saja hal itu terjadi. Dewa itu juga seperti manusia, mereka bisa bertengkar. Misalnya para penguasa negara yang saling bertikai, atau seperti yang terjadi di Kamboja saat komunis berkuasa di sana.

Pertanyaan:
Apakah hakekat sebuah kemenangan?