Senin, 07 November 2011

LESSON STUDY: Promoting Students Thinking on the Concept of Least Common Multiple (LCM) Through Realistic Approach in the 4th Grade of Primary Mathematics Teaching



by: Marsigit, Atmini Dhoruri, Sugiman, Ali Mahmudi
reviewed by: Ika Kusumawati (ika-kusumawati.blogspot.com)
Pemerintah Indonesia telah mengembangkan pembelajaran dan pengajaran kontekstual (CTL) dan realistic untuk mendukung implementasi kurikulum berbasis sekolah, artinya pemerintah mendorong para guru untuk mengembangkan kecakapan hidup siswa dengan menggunakan lingkungan optimal untuk mendukung kegiatan siswa. Selanjutnya pemerintah menerapkan Pendidikan Matematika Realistik (RME) dalam skema Lesson Study yang memberi kesempatan pada guru untuk meningkatkan pendekatan imstruksional dari tradidional ke salah satu progresif.
Dua poin penting tentang matematika realistic dan berhubungan dengan manusia adalah (1) matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan situasi kehidupan sehari-hari. kata ‘realistik’ bukan hanya merujuk pada kenyataan yang ada di dunia nyata namun juga merujuk pada situasi nyata dalam benak siswa (Zulkardi, 2006). (2) Gagasan matematika sebagai aktivitas manusia ditekankan.  Ada dua jenis matematisasi yang dirumuskan oleh Traffers, 1987 yaitu matematisasi horisontal dan matematisasi vertikal. Dalam matematisasi horisontal, siswa menggunakan alat-alat matematika yang dapat membantu mengatur dan memecahkan masalah dalam kehidupan nyata. Sedangkan matematisasi vertikal adalah proses reorganisasi dalam sistem matematika itu sendiri.

Sebuah penelitian dilakukan di SD Percobaan 2 yang bertujuan untuk mengungkap gagasan matematika sebagai aktivitas manusia yang ditekankan pada pendekatan realistic. Dalam penelitian ini guru memberikan kesemptan pada siswa untuk bekerja secara individu dan kelompok tak formal untuk melakukan matematisasi horisontal. Siswa dapat mengembangkan matematisasi horizontal dengan cara (a) mengidentifikasi atau mmenjelaskan matematika spesifik, (b) merumuskan dan visualisasi masalah yang berbeda, (c) menemukan hubungan, (d) menemukan keteraturan, (e) mengakui aspek dalam masalah yang berbeda isomorfik, (f) mentransfer masalah yang ada di dunia nyata untuk masalah matematika. Sedangkan pengembanganmatematisasi vertikal dapat melalui : (a) mewakili masalah sehari-hari dalam rumus, (b) siswa berusaha membuktikan konsep, (c) siswa menyesuaikan dengan materi dan menemukan cara yang efektif untuk menghitung beberapa maslaah umum, (d) siswa melakukan matematisasi dengan model yang berbeda, (e) siswa merumuskan model matematika dan generalisasi. Secara umum, hasil lesson studytersebut adalah:
1.     kemampuan berfikir siswa mengenai LCM (KPK) menggunakan konteks kehidupan nyata sebagai titik awal dalam pembelajaran
2.     format kalender masalah adalah model yang berguna bagi para siswa sebagai jembatan antara pemikiran matematika yang abstrak ke nyata.
3.     Pemikiran siswa tentang KPK dipengauhi oleh penggunaan strategi dan penggunaan rumus.
4.     Dalam konsep KPK interaksi antara guru dan siswa dan interaksi antar siswa adalah penting.
5.     Kemampuan berpikir siswa tentang konsep KPK dipengarui oleh konsep-konsep yang dikembangkan sebelumnya

Minggu, 06 November 2011

WAWASAN TENTANG STRATEGI DAN APLIKASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KOMPETENSI



by: Dr. Marsigit M. A
reviewed by: Ika Kusumawati (ika-kusumawati.blogspot.com)

Dynamic development of the current Indonesian sue that curriculum must emphasize in education issues, school problems, various schools, educational personal, interest and skill of students, and community, science, and technology development. Competency-based curriculum is pressing on students’ skill. Curriculum was developed based on the elaboration of standard competence to basic skill as an affective, cognitive, and psychomotor skill.
Mathematics school characters are (1) mathematics as a search pattern and relationship activity, (2) mathematics as a creativity that need imagination, intuition and discovery, (3) mathematics as a problem solving activity, (4) mathematics as a communication. There are characters of students studying mathematics, such as: (1) students study mathematics if they have motivation, (2) students learn mathematics with their own way, (3) Students study mathematics as individual or corporate with their friends, (4) students need different context and situation.
Curriculum was designed for students so they can develop their creativity, communicate their mind with others, etc. To make it happen, we need to develop mathematics learning process which emphasize in context and application in our life. Then, material learning is material that has studied by students to get basic competence and goal of learning. Material learning is developed from standar competency with material and learning activity. Ebbutt and Straker (1995) say that mathematics materials are including:
a.     facts
b.     logical ability
c.      algorithm ability
d.     problem solving ability
e.      investigation ability

How to develop syllabi in appropriate with competence-based curriculum, the steps are:
a.     determine structure of mathematics knowledge
b.     develop it in basic competence
c.      make mathematics learning material
d.     determine students’ learning activity
e.      time allocation
f.       reference and learning source