Selasa, 08 Januari 2013

Refleksi 8



Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika 21 Desember 2012

Perkuliahan filsafat pendidikan matematika pada tanggal 21 Desember 2012 diisi dengan penyajian hasil presentasi Prof. Dr. Marsigit, di Chiang Mai tentang The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Reflection Prior to Lesson Study Activities. Iceberg Approach ini merupakan gambaran gunung es matematika realistik. Di bagian paling dasar ada matematika konkret, di atasnya ada model konkret, lalu model fornal, dan matematika formal. Implementasi filsafat dalam kehidupan ini cukup besar.
Filsafat itu luas, mencakup berbagai macam hal, nisalnya hermenetika. Inilah gambaran tentang hermenetika menurut Prof. Dr. Marsigit yang diambil dari blog beliau 


Kita dapat menggunakan hermenetika hidup, hermenetika pembelajaran matematika, hermenetika keluarga, dll. Unsur dasarnya hermenetika digambarkan dengan garis lurus dan melingkar, lurus karena kita tidak akan pernah mengulangi hal yang sama, semuanya menembus ruang dan waktu. Manusia  memiliki kesadaran dan keterampilan dalam menembus ruang dan waktu. Astronot, presiden itu menembus ruang dan waktu. Ruang tersebut berdimensi. Namun tiap orang berbeda pemikirannya dalam menembus ruang dan waktu. Beribadah itu menembus ruang dan waktu, jika tingkatan iman menurun berarti kita mundur dalam ruang dan waktu. Itulah hermenetika.
Unsur berikutnya adalah melingkar. Melingkar artinya berinteraksi, misal yang di atas guru, dibawah murid, yang di atas kakak, yg di bawah adik, yang di atas akhirat, yang di bawah dunia, yang diatas para filsuf, yang di bawah kita, dst. Ternyata hermenetika meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Dengan adanya hermenetika, diharapkan kita dapat bekerja sama, memiliki motivasi, dan kompetensi. Dalam tingkat global akan timbul tantangan yang semakin pelik. Oleh karena itu jangan lupa daratan, bagaimanapun kondisi kita. Di dunia ini semakin banyak orang yang sombong. Mereka menegakkan bangsa yang satu, di satu sisi Indonesia bersikap toleran, yang dapat juga diartikan bahwa toleran itu karena tidak mengerti. Bangsa yang satu tersebut meminta negara-negara lainnya untuk bergabung. Setelah itu negara-negara yang bergabung diminta untuk menuruti perintahnya. Secara fakta, kita dapat mengatakan orang yang paling siap menghadapi hari kiamat adalah orang yang belajar filsafat. Di negara lain, mereka risau akan hal tersebut. Pikiran mereka dapat seperti itu karena spiritual tidak diletakkan dalam tingkatan paling atas, berbeda dengan dengan orang yang belajar filsafat yang menjadikan spiritual sebagai bagian dari hidupnya.
Di dalam hermenetika ada yang rutin, misal Senin bertemu lagi dengan Senin, bertemu lagi. Ada juga pengembangan diri, dalam filsafat disebut mengadakan yang mungkin ada, membisakan yang mungkin bisa. Yang mungkin ada meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya dalam penelitian, kita harus memahami data, observasi di kelas, fokus pada apa yang diteliti, misalnya kesulitan siswa. Lalu dari hasil yang ada digunakan untuk membangun kesimpulan secara keseluruhan. Hermeneutic of life itu luar biasa. Ini disederhanakan sebagai matematika konkret, model konkret, model formal, dan matematika formal. Matematika konkret adalah apapun yang kita lihat. Jika di sekitar kita ada ubi karet, contoh matematika konkretnya adalah menghitung banyaknya daun. Namun jika yang ada adalah gambar atau fotonya, hal tersebut sudah menjadi model konkret, karena sudah mengalami campur tangan guru. Jika telah sampai pada penjumlahan-penjumlahan, maka kita dapat menggunakan tangkai ubu tersebut, misalnya panjangnya tangkai sekian cm. Ini adalah contoh bentuk formalnya. Iceberg di Indonesia digambarkan dengan gunung berapi. Gunung mempunyai metafisik. Apa yang ada dibalik gunung? Dibalik gunung itu adalah kekuasaan Tuhan, tetapi tiap orang memiliki pandangan yang berbeda akan hal itu. Jika kita tidak siap dengan fenomena tersebut maka dapat menjadi bencana, sedangkan jika kita siap maka dapat menjadi hiburan, begitu juga dengan matematika. Jika kita mengajar matematika dalam keadaan siswa tidak siap, maka akan menjadi bencana bagi siswa. Jika siswa dalam kondisi senang maka mereka menjadi siap. Cara untuk menciptakan kesiapan itu antara lain berkomunikasinya dengan dunia siswa. Gunakanlah hal-hal yang dekat dengan sisiwa. Jangan pure mathematics mengurus pendidikan.
Unsur dasar fenomenologi adalah idealisasi dan abstraksi. Dalam filsafat, fenomena meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Segala hal yang jelek, yang mengganggu fokus kita harus dibuang di rumah epoche. Anak kecil, orang tua, pure matematician mengenal fenomenologi. Sekarang yang menjadi masalah adalah kaum absolutis masih menguasai dunia pendidikan anak-anak. Kaum absolutis adalah kaum formal, platonism, ilmu-ilmu basic, karena setiap negara industrial membutuhkan absolutism untuk ujung tombaknya. Dalam jangka panjang, dikhawatirkan akan tercipta manusia-manusia cerdas yang tidak bernurani. Itulah pendidikan yang merampas intuisi siswa. Guru harus merebut kembali intuisi yang telah hilang lalu mengembangkannya. Perubahan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Intuisi harus didahului dengan kesadaran dan persepsi serta sensasi, sensori motor, penginderaan.
Intuisi dapat berasal dari pengalaman. Pengalaman bersifat kontingen, aposteriori dan empirical. Intuisi ada sejak kecil, peran intuisi misalnya dalam menentukan jauh-dekat, banyak-sedikit, sehingga terbentuklah kategori oleh Immanuel Kant, yaitu kategori kuantiti, relasi, hipotesis, dll . Inilah gambaran tentang hakekat berpikir menurut Immanuel Kant yang diulas kembali oleh Prof. Dr. Marsigit.

Hidup ini sebenar-benarnya adalah catatan. Pada dasarnya kita sedang membukukan hidup kita, yang nantinya di akhirat akan dibuka kembali. Apodiktik adalah pasti atau suatu kepastian. Intuisi itu bersifat naik. Jika sudah mencapai kategori di pikiran maka akan turun karena digunakan, demikian seterusnya. Jika intuisi menurun, maka seperti platonism. Cara mendidik seorang platonism seperti itu, sangat keras. Kesalahan yang terjadi saat ini adalah adanya kesalahan tentang pandangan terhadap siswa, yaitu siswa dianggap sebagai tong kosong. Dalam matematika formal yang mengerti hanya guru, beda dengan school mathematics, siswa dapat mengerti, terkadang guru justru tidak mengerti. Begitulah pembelajaran kontekstual. Matematika formal biasanya diawali dengan definisi, lalu timbul pertanyaan untuk apa kita mempelajarinya. Di sini disebiut dengan platonism, idealis. Obyek matematika itu ada di pikiran Anda. Jika diluar pikiran maka angka 3 pun dapat bermacam-macam tergantung pengalaman siswa. Wujudnya dapat berubah-ubah, sesuai dengan paham heraclitos. Jika pada siswa SD sudah diajarkan Platonism, dikhawatirkan akan berbahaya. Dalam penenrapan sehari-hari anak itu adalah satu, anak yang jumlahnya banyak adalah contoh. Kita tidak dapat menggunakan platonism dalam pergaulan kita. Menurut Plato segala hal di dunia ini adalah satu, yang lain hanyalah contoh.
Salah satu cara mengembangkan intuisi anak adalah dengan menghadapkannya pada masalah. Misalnya tentang masalah menghitung banyaknya bunga yang ada di kebun. Biarkan ia menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Biarkan ia menggunakan intuisinya. Jika dipaksakan, maka siswa kan “kesurupan”. Mulailah dari hal yang sesuai dengan intuisi kita. Guru perlu pemahaman tentang the nature of school matematics, realistic mathematic and constructivism. Jangan sampai sebagai calon guru kita berpikiran kolot dan tradisional.


Kamis, 20 Desember 2012

Refleksi 7



Refleksi Perkuliahan Filsafat Tanggal 17 Desember 2012

Seperti pada perkuliahan sebelumnya, kuliah filsafat pendidikan matematika yang diampu oleh Bapak Marsigit diawali dengan tes jawab singkat kemudian dilanjutkan dengan diskusi atau yang lebih tepat disebut sesi tanya jawab. Berikut ini akan disajikan beberapa pertanyaan dari mahasiswa beserta jawaban dari Bapak Marsigit.
1.      Pertanyaan Lina Dwi A. S : Apakah hakekat angin?
Jawaban:
Objek dalam filsafat itu berdimensi. Dimensi yang paling primitif adalah intuitif, misalnya sejak kapan kita mengenal angin. Jika kita tidak mampu menjawabnya, maka kita menjadi kaum intuisionism dalam hal angin. Intuisi itu sangat penting, karena 90% bagian hidup kita merupakan intuisi. Intuisi muncul karena ada hal yang tidak bisa didefinisikan. Jika kita memakasa untuk membuat definisi, maka dikhawatirkan akan berbeda artinya. Dari intuisi tersebut terbentuklah apa itu angin. Oleh Imanuel Kant dibuatlah 12 kategori di dalam pikiran kita. Cara membentuk kategori tersebut melalui intuitif. Setelah terbentuk, kemudian kategori tersebut digunakan untuk berpikir kembali. Dalam filsafat dikenal 4 tahap komunikasi, yaitu material, formal, normatif, spiritual. Kita dapat mengartikan angin secara material maupun formal yaitu angin dapat berupa badai, topan, yang lazim dipakai dalam bentuk formal. Normatif artinya kajian keilmuan dari angin, misalnya secara fisika, tapi jika merupakan gejala alam dapat menonjol dari ilmu bidangnya, misalnya dari bidang geografi, angin adalah pergerakan. Angin secara spiritual dapat dicari di kitab suci, jika tidak ada berarti pemahaman angin hanya sampai pada bentuk normatifnya.

2.      Pertanyaan Eka Budhiarti: Apakah hakekat dari perceraian?
Jawaban:
Kita dapat melihat arti cerai dokumen resmi. Misalnya dalam undang-undang perkawinan. Ini merupakan arti perceraian secara formal. Secara spiritual pun dapat diartikan apa itu perceraian. Normatifnya dilihat dari baik buruknya suatu perceraian itu.

3.      Pertanyaan Nurmanita: Dalam suatu pernikahan, bila suami/istri dan orang tua sama-sama membutuhkan bantuan, manakah yang seharusnya didahulukan?
Jawaban:
Yang diutamakan adalah komunikasi.

4.      Pertanyaan Cony Devilita: Apakah hakekat keyakinan dan kepercayaan dalam tinjauan agama?
Jawaban:
Ada term yang berkembang, kepercayaan itu naik pagkat/ naik derajat. Setelah ada persoalan lalu disebutlah apa itu kepercayaan. Bahasa pun mengalami kemunduran, misalnya bekas. Dahulu bekas itu dapat digunakan untuk manusia, namun sekarang tidak lazim, sekarang kita menyebutnya dengan mantan. Kalimat-kalimat tersebut dapat mengalami reduksi. Ada juga undang-undang yang mengatur kepercayaan. Iniah bentuk formalnya. Secara formal dapat dilihat dalam dokumen-dokumen yang relevan.

5.      Pertanyaan Rudy Prasetyo: Bagaimana menanggapi keadaan agar tidak semakin terpuruk?
Jawaban:
Misalnya kejadian musibah di Amerika, yang dapat mengibur adalah orang yang lebih tinggi atau memiliki wewenang lebih. Jika sebaya atau sederajat maka hanya menghibur sesaat atau bahkan tidak didengar. Cara menanggapinya adalah dengan ikhtiar dan berdoa. Merasa terpuruk pun dapat merupakan anugerah.

6.      Pertanyaan Rina Susilowati: Bagaimana cara menumbuhkan semangat ketika gagal?
Jawaban:
Setiap hal yang ada dan yang mungkin ada dapat digunakan untuk memotivasi. Kita harus melihat ke bawah agar lebih bersyukur dan termotivasi. Selain itu, kita dapat menentukan tujuan hidup dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Cara selanjutnya adalah dengan komunikasi.

7.      Pertanyaan Tri Wahyuni: Mengapa ada pro dan kontra? Apa sebabnya?
Jawaban:
Hal tersebut merupakan kodrat, sunatullah. Tuhan menciptakan segala sesuatu ini bertolak belakang, mislanya laki-laki-perempuan, siang-malam, dll. Dalam hidup selalu ada pro dan kontra. Pro dan kontra dalam pikiran merupakan ilmu. Tetapi jika di dalam hati merupakan godaan syaitan

8.      Pertanyaan Siti Nurunniyah: Apakah hakekat perubahan?
Jawaban:
Hakekat merupakan ontologi, epistemologinya tidak dpaat dipisahkan. Jika dilihat dari ilmu bidangnya, perubahan adalah berubahnya warna misalnya karena reaksi kimia. Kata-kata berubah pun juga bisa merupakan pengertian intuitif.

9.      Pertanyaan Yunia Indri H:
a.       Jika ada dua orang, satu orang tua satu yang lebih muda. Orang tua dapat disebut dewa bagi yang lebih muda, tapi disisi lain orang yang lebih muda tersebut dapat juga disebut dewa. Apakah syarat-syarat disebut dewa?
Jawaban:
Segala sesuatu dapat disebut dewa dilihat berdasarkan ruang dan waktu. Setiap hal yang ada dan yang mungkin ada dapat berupa dewa. Tapi yang tidak dapat dikejar adalah usia. Jika dilihat dari usia, maka yang lebih tua adalah dewa bagi yang lebih muda
b.      Bagaimana telaah cara membedakan hasil berpikir filsafat?
Jawaban:
Berfikir filsafat dapat dilihat dari kerangkanya. Berpikir filsafat itu melipiti ontologis dan epistemologis, dan aksiologis. Berfilsafat itu adalah pikiran para filsuf. Berfilsafat itu ekstensif dan intensif.

10.  Pertanyaan Ermitasari:
a.       Mengapa ada bencan/gejala alam yang semakin kompleks?
Jawaban:
Bagi orang tua, justru melihatnya semakin sederhana karena ada hal-hal yang telah dilupakan, namun juika kita melihatnya semakin kompleks maka kita telah mampu memahami.
b.      Apakah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai ciptaan Tuhan?
Jawaban:
Semua itu dapat dikatakan hanya sebagian dari ciptaan Tuhan, sebagian ciptaan yang lain misalnya adalah rahmat dan keyakinan. Yang diciptakan bagi diri kita itu belum seberapa. Orang di Inggris tidak akan mampu memahami kota London, karena mereka sibuk dengan ciptaannya sendiri. Kita perlu mensyukuri apa yang ada. Setiap yang ada dan yang mungkin ada wajib disyukuri karena semua itu merupakan rahmat-Nya. Ternyata dari setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi sumber dosa, sehingga selain bersyukur juga memohon ampun.

Minggu, 16 Desember 2012

Refleksi 6



MELIHAT SEGALA SESUATU LEBIH DALAM SECARA FILSAFAT

Perkulihan Filsafat Pendidikan Matematika pada hari Senin, 10 Desember 2012 diawali dengan tes jawab singkat, kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama atau lebih tepatnya disebit sebagai sesi tanya jawab. Berikut ini akan dituliskan beberapa pertanyaan dari mahasiswa beserta jawaban dari Bapak marsigit.
1.      Pertanyaan Yulian Angga: Apakah segala sesuatu di alam semesta ini memiliki pola?
Jawaban:
Sebuah pola bukanlah pola bagi orang yang tidak mengetahui. Kalau kita percaya dan mampu memahami, maka semua telah di desain oleh Tuhan itu memiliki pola, namun kita belum mampu mengulasnya secara keseluruhan. Kita mampu menyatakan suatu benda dan benda yang lainnya berpola jika kita mampu memahami dan meyakininya.

2.      Pertanyaan Rina susilowati:
a.    Apa hakekat perbedaan dalam persatuan?
Jawaban:
Orang itu berbeda dalam banyak hal tapi dapat juga sama dalam banyak hal. Jika dilihat secara mendalam maka semua orang itu berbeda tapi juga sama, misalnya semua orang itu adalah makhluk hidup, semua orang sama-sama membutuhkan makan, semua orang pasti akan mati, namun disisi ain ada juga perbedaannya karena manusia sangat terikat ruang dan waktu. Jika kita memperhitungkan ruang dan waktu, maka tiap orang itu tidak sama.
b.    Kapan sesuatu itu disebut sebagai mimpi?
Jawaban:
Mimpi itu sangat berpengaruh dengan kehidupan yang kita alami. Mimpi dapat berawal dari kesan yang mendalam. Kualitas mimpi pun berbeda-beda. Area mimpi dapat dipelajari dengan menggunakan psikologi dalam ilmu gejala jiwa.

3.      Pertanyaan Ermitasari: Apakah beda cinta dengan sayang?
Jawaban:
Jika dilihat dari persamaannya, sayang dan cinta sama-sama kontekstual dan berdimensi. Keduanya merupakan bagian dari intuisi sehingga kita tidak dapat mendefinisikan dengan jelas apa itu cinta dan sayang, kecuali dengan memberikan gambaran-gambaran yang mendeskripsikannya. Cara membedakan cinta dan sayang adalah melalui intuisi. Pengalamanlah yang dapat membedakannya, karena dari pengalaman itulah kita mampu membentuk pengertian apa itu cinta dan apa itu sayang. Perbedaannya dapat dilihat dari konteksnya. Disini intuisilah yang berperan. Mungkin saja definisi setiap orang berbeda-beda.

4.      Pertanyaan Dwi Kartika Sari: Obyek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada, mengapa yang tidak ada itu tidak termasuk dalam obyek filsafat?
Jawaban:
Obyek filsafat itu tergantung pada ruang dan waktunya. Yang tidak ada itu bisa saja menjadi ada. Obyek filsafat yang tidak ada dapat dikategorikan dalam obyek yang mungkin ada.

5.      Pertanyaan Nurmanita Prima: Bagaimana hakikat guru matematika yang dianggap galak di sekolah?
Jawaban:
Sepertinya kurang tepat jika kita menggunakan istilah hakekat guru yang galak, karena galak tidak dapat didefinisikan. Jika yang dimaksud adalah ciri-ciri guru yang galak, maka kita dapat menyebutkannya, yaitu suka marah, toleransinya kecil, atau suka memaksakan kehendak.

6.      Pertanyaan Arlian Bety: Bagaimana menghadapi orang yang pelit, tidak mau membagi ilmunya dengan orang lain?
Jawaban:
Kita dapat mengandalkan komunikasi, namun jika yang bersangkutan tidak mau, janganlah sekali-kali kita memaksanya, karena ada hal-hal yang tidak mungkin dapat kita lakukan walaupun demi hal yang lebih baik. Dalam bertanya, metode yang digunakan itu juga penting. Pada dasarnya dalam hal pengetahuan, kita harus membuka diri, siapa saja yang membutuhkan silahkan mengambil ilmu kita, kita harus menghargai mereka yang ingin belajar.
Kita berbeda dengan warga negara kapitalis. Orang-orang di sana beorientasi bisnis, maka mereka mulai memberi harga pada apa yang ia pikirkan. Di Amerika ada istilah teacher pays teacher. Ide-ide yang dibuat dibayar oleh orang lain yang membutuhkan.

7.      Pertanyaan Naafi: Bagaimana cara memberikan pemahaman pada guru tentang matematika?
Jawaban:
Kita jangan melihat orang lain sebagai obyek. Alangkah baiknya jika kita bersama sama dengan mereka berdiskusi dan saling memberikan masukan. Sehingga kita bisa sama-sama belajar. Baiknya guru itu sendiri yang memiliki keinginan untuk belajar. Jangan kita yang memberikan pemahaman pada guru, tapi guru yang seharusnya meng-construct pengetahuannya sendiri.

8.      Pertanyaan Felisitas:
a.    Apakah penyebab krisis multi-dimensi?
Jawaban:
Penyebab krisis multi-dimensi adalah guru. Contohnya adalah perilaku guru yang tidak mau bersama-sama memberi masukan. Guru yang menganggap siswa sebagai tong kosong, tidak mau memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri.
b.    Mengapa belajar filsafat itu sulit?
Jawaban:
Karena kita mempelajarinya secara ekstensif dan intensif, yaitu seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, meliputi yang ada dan yang mungkin ada.

9.      Pertanyaan Siti subekti: Apakah yang dimaksud hermenetika?
Jawaban:
Hermenetika artinya terjemah dan menerjemahkan, dalam budaya kita disebut sebagai silaturahim. Jika mempelajari matematika, guru harus memfasilitasi agar siswa mampu bersilaturahim dengan matematika.

10.  Pertanyaan Rudi Prasetyo: Bagaimana mengalahkan kemalasan?
Jawaban:
Malas bisa dipengaruhi dari fisik kita. Misalnya kita adalah orang gemuk, maka godaan orang gemuk itu mudah tidur. Tetapi tidak semua orang gemuk seperti itu. Berfilsafat itu dapat membuat badan menjadi kurus, karena mengerti itu dapat menyebabkan tidak bahagia.

11.  Pertanyaan Aries Saputra: Secara filsafat apakah ada kaitan antara khayalan dengan cita-cita?
Jawaban:
Iya tentu. Cita-cita adalah khayalan tapi khayalan itu belum tentu cita-cita. Cita-cita merupakan khayalan yang tersistem. Ada landasan, alasan, dan latar belakangnya. Cita-cita dapat juga disebut khayalan yang dapat dipertanggungjawabkan.

12.  Pertanyaan Siti zainab: Apakah hakekat sombong?
Jawaban:
Sombong itu bertingkat-tingkat, dapat dilihat dari sudut pandang dari orang awam, psikologi, sampai spiritual. Dalam spiritual, sombong itu berhubungan dengan setan. Tanpa didefinisikan, sombong dapat diartikan secara intuisi.

Sabtu, 15 Desember 2012

Refleksi 5


Ika Kusumawati
09301241020
Pend. Matematika Sub 09

Mengenal Mitos Filsafat
Filsafat itu merupakan transformasi antara makro (universal) dan mikro (didi sendiri). Semua yang ada di dunia ini bermanfaat, demikian juga dalam berfilsafat, misalnya mitos. Mitos adalah tidak mengerti ilmunya tetapi tetap melakukannya. Anak kecil belajar menggunakan mitos. Orang tua juga mempelajari mitos, tetapi turut memperhatikan ruang dan waktu, misalnya sholat hanya karena ikut-ikutan tanpa mengetahui tujuannya. Hal tersebut termasuk mitos. Dalam kehidupan pun, kita mengenal mitos, misalnya segala hal yang behubungan dengan yang gaib. Pengaruh mitos itu kuat. Terkadang orang memikirkannya saja tak berani. Jika kita ingin memasuki darah mitos, maka perbanyaklah berdoa pada Tuhan
Mitos dapat dibuat sendiri dengan tujuan tertentu, misalnya untuk menakut-takuti orang. Dalam ibadah dan hidup kita, kita harus yakin bahwa yang sudah terjadi itu adlaah yang terbaik, apapun itu, baik yang gagal maupun yang sukses. Kegagalan itupun bisa jadi yang terbaik bagi kita, karena tidak ada sekecil zarah pun di dunia ini yang tidak berharga untuk kita. Maka semua hal yang ada dan yang mungkin ada adalah karuniaNya.
Mimpi yang kita alami pun dapat menciptakan mitos. Mimpi berawal dari kesan yang mendalam. Misalnya hari ini kita mengalami kebahagiaan yang sangat, maka bisa jadi mimpi kita nanti malam berkaitan dengan yang memmbuat kebahagiaan tersebut. Jika kita membicarakan mitos, maka hal yang dekat dengan mitos yaitu ramalan. Kita bisa percaya tidak percaya pada paranormal. Karana terkadang yang diucapkan itu tidak sampai ke dalam ranah pikir kita (logika) tetapi kenyataannya terjadi. Bisa saja ia mengamati dari hal-hal yang terjadi lalu menyimpulkannya.
Contoh secara analoginya adalah mendahului kendaraan (menyalip) dari kiri. Secara hakiki, orang tersebut telah memiliki potensi untuk berbahaya, sehingga harus disadarkan. Orang yang telah berpengalaman mampu membaca tanda-tanda tersebut. Dalam filsafat, hal ini disebut ranah naumena, yaitu ranah yang tidak bisa dilihat, diraba tetapi bisa dipikirkan.
Mitos sangat berkaitan dengan intuisi, begitu juga logos, sehingga kita dapat mengatakan intuisi merupakan pondasi hidup kita. Contoh kacau kacau intuisi ruang adalah ketidakmampuan membedakan utara-selatan-timur-dan barat. Sedangkan contoh kekacauan intuisi waktu adalah ketidakmampuan mengenali waktu, misalnya di Inggris. Di sana siang tidak sepenuhnya siang sehingga sulit untuk mengidentifikas waktu. Intuisi dapat diperoleh dari aktivitas dan interaksi. Itulah sebabnya mengapa matematika didefinisikan sebagai kegiatan, bukan ilmu. Matematika di definisikan sebagai kegiatan yang meliputi kegiatan mencari pola, kegiatan menyelesaikan masalah, kegiatan investigasi, dan kegiatan berkomunikasi. Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan intuisi.
Mitos, intuisi, gaib (spiritual) ada dalam filsafat. Marilah kita merebut intuisi kembali yang mulai hilang di sekolahan. Kaitannya dengan spiritual, bagaimana meningkatkan kualitas keimanan melalui filsafat. Apapun yang dapat kita bicarakan (pikirkan) adalah urusan dunia, tetapi ibadah meliputi dunia dan akhirat. Alangkah baiknya bila urusan dunia kita memiliki nilai ibadah. Contoh dalam ranah spiritual adalah dalam mengimani para Nabi. Dalam mengimani Nabi, sebenarnya kita tidak dapat melihat wajah beliau, tetapi kita percaya bahwa beliau ada. Cara mengimaninya adalah dengan mengembangkan intuisi. Salah satu cara yang lain adalah karena adanya kitab yang menyebutkannya.
Filsafat itu sangat luas, membaca elegi merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mengembangkan intuisi. Dengan intuisi, diharapkan kita menjadi sopan dan santun. Hukum orang yang tidak sopan dan santun adalah celaka, baik celaka pikir, celaka hati, celaka bicara, celaka penglihatan, maupun celaka fisik. Memperbaiki intuisi itu meliputi menghilangkan kesenjangan antara pikiran dan perasaan. Untuk memperbaiki intuisi harus menggunakan referensi. Memperbaiki intuisi tidak dapat instan, semua ada prosesnya dan memerlukan energi.

Pertanyaan:
Apakah ada batasannya sejauh mana intuisi itu dapat berkembang?