Ika
Kusumawati
09301241020
Pend.
Matematika Sub 09
Mengenal Mitos Filsafat
Filsafat itu merupakan transformasi
antara makro (universal) dan mikro (didi sendiri). Semua yang ada di dunia ini
bermanfaat, demikian juga dalam berfilsafat, misalnya mitos. Mitos adalah tidak
mengerti ilmunya tetapi tetap melakukannya. Anak kecil belajar menggunakan
mitos. Orang tua juga mempelajari mitos, tetapi turut memperhatikan ruang dan
waktu, misalnya sholat hanya karena ikut-ikutan tanpa mengetahui tujuannya. Hal
tersebut termasuk mitos. Dalam kehidupan pun, kita mengenal mitos, misalnya
segala hal yang behubungan dengan yang gaib. Pengaruh mitos itu kuat. Terkadang
orang memikirkannya saja tak berani. Jika kita ingin memasuki darah mitos, maka
perbanyaklah berdoa pada Tuhan
Mitos dapat dibuat sendiri dengan
tujuan tertentu, misalnya untuk menakut-takuti orang. Dalam ibadah dan hidup
kita, kita harus yakin bahwa yang sudah terjadi itu adlaah yang terbaik, apapun
itu, baik yang gagal maupun yang sukses. Kegagalan itupun bisa jadi yang
terbaik bagi kita, karena tidak ada sekecil zarah pun di dunia ini yang tidak
berharga untuk kita. Maka semua hal yang ada dan yang mungkin ada adalah
karuniaNya.
Mimpi yang kita alami pun dapat
menciptakan mitos. Mimpi berawal dari kesan yang mendalam. Misalnya hari ini
kita mengalami kebahagiaan yang sangat, maka bisa jadi mimpi kita nanti malam
berkaitan dengan yang memmbuat kebahagiaan tersebut. Jika kita membicarakan
mitos, maka hal yang dekat dengan mitos yaitu ramalan. Kita bisa percaya tidak
percaya pada paranormal. Karana terkadang yang diucapkan itu tidak sampai ke
dalam ranah pikir kita (logika) tetapi kenyataannya terjadi. Bisa saja ia
mengamati dari hal-hal yang terjadi lalu menyimpulkannya.
Contoh secara analoginya adalah mendahului
kendaraan (menyalip) dari kiri. Secara hakiki, orang tersebut telah memiliki
potensi untuk berbahaya, sehingga harus disadarkan. Orang yang telah
berpengalaman mampu membaca tanda-tanda tersebut. Dalam filsafat, hal ini
disebut ranah naumena, yaitu ranah yang tidak bisa dilihat, diraba tetapi bisa
dipikirkan.
Mitos sangat berkaitan dengan
intuisi, begitu juga logos, sehingga kita dapat mengatakan intuisi merupakan
pondasi hidup kita. Contoh kacau kacau intuisi ruang adalah ketidakmampuan
membedakan utara-selatan-timur-dan barat. Sedangkan contoh kekacauan intuisi
waktu adalah ketidakmampuan mengenali waktu, misalnya di Inggris. Di sana siang
tidak sepenuhnya siang sehingga sulit untuk mengidentifikas waktu. Intuisi
dapat diperoleh dari aktivitas dan interaksi. Itulah sebabnya mengapa
matematika didefinisikan sebagai kegiatan, bukan ilmu. Matematika di
definisikan sebagai kegiatan yang meliputi kegiatan mencari pola, kegiatan
menyelesaikan masalah, kegiatan investigasi, dan kegiatan berkomunikasi.
Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan intuisi.
Mitos, intuisi, gaib (spiritual)
ada dalam filsafat. Marilah kita merebut intuisi kembali yang mulai hilang di
sekolahan. Kaitannya dengan spiritual, bagaimana meningkatkan kualitas keimanan
melalui filsafat. Apapun yang dapat kita bicarakan (pikirkan) adalah urusan
dunia, tetapi ibadah meliputi dunia dan akhirat. Alangkah baiknya bila urusan
dunia kita memiliki nilai ibadah. Contoh dalam ranah spiritual adalah dalam
mengimani para Nabi. Dalam mengimani Nabi, sebenarnya kita tidak dapat melihat
wajah beliau, tetapi kita percaya bahwa beliau ada. Cara mengimaninya adalah
dengan mengembangkan intuisi. Salah satu cara yang lain adalah karena adanya
kitab yang menyebutkannya.
Filsafat itu sangat luas, membaca
elegi merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mengembangkan intuisi.
Dengan intuisi, diharapkan kita menjadi sopan dan santun. Hukum orang yang
tidak sopan dan santun adalah celaka, baik celaka pikir, celaka hati, celaka
bicara, celaka penglihatan, maupun celaka fisik. Memperbaiki intuisi itu
meliputi menghilangkan kesenjangan antara pikiran dan perasaan. Untuk
memperbaiki intuisi harus menggunakan referensi. Memperbaiki intuisi tidak
dapat instan, semua ada prosesnya dan memerlukan energi.
Pertanyaan:
Apakah
ada batasannya sejauh mana intuisi itu dapat berkembang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar