Sabtu, 15 Desember 2012

Refleksi 5


Ika Kusumawati
09301241020
Pend. Matematika Sub 09

Mengenal Mitos Filsafat
Filsafat itu merupakan transformasi antara makro (universal) dan mikro (didi sendiri). Semua yang ada di dunia ini bermanfaat, demikian juga dalam berfilsafat, misalnya mitos. Mitos adalah tidak mengerti ilmunya tetapi tetap melakukannya. Anak kecil belajar menggunakan mitos. Orang tua juga mempelajari mitos, tetapi turut memperhatikan ruang dan waktu, misalnya sholat hanya karena ikut-ikutan tanpa mengetahui tujuannya. Hal tersebut termasuk mitos. Dalam kehidupan pun, kita mengenal mitos, misalnya segala hal yang behubungan dengan yang gaib. Pengaruh mitos itu kuat. Terkadang orang memikirkannya saja tak berani. Jika kita ingin memasuki darah mitos, maka perbanyaklah berdoa pada Tuhan
Mitos dapat dibuat sendiri dengan tujuan tertentu, misalnya untuk menakut-takuti orang. Dalam ibadah dan hidup kita, kita harus yakin bahwa yang sudah terjadi itu adlaah yang terbaik, apapun itu, baik yang gagal maupun yang sukses. Kegagalan itupun bisa jadi yang terbaik bagi kita, karena tidak ada sekecil zarah pun di dunia ini yang tidak berharga untuk kita. Maka semua hal yang ada dan yang mungkin ada adalah karuniaNya.
Mimpi yang kita alami pun dapat menciptakan mitos. Mimpi berawal dari kesan yang mendalam. Misalnya hari ini kita mengalami kebahagiaan yang sangat, maka bisa jadi mimpi kita nanti malam berkaitan dengan yang memmbuat kebahagiaan tersebut. Jika kita membicarakan mitos, maka hal yang dekat dengan mitos yaitu ramalan. Kita bisa percaya tidak percaya pada paranormal. Karana terkadang yang diucapkan itu tidak sampai ke dalam ranah pikir kita (logika) tetapi kenyataannya terjadi. Bisa saja ia mengamati dari hal-hal yang terjadi lalu menyimpulkannya.
Contoh secara analoginya adalah mendahului kendaraan (menyalip) dari kiri. Secara hakiki, orang tersebut telah memiliki potensi untuk berbahaya, sehingga harus disadarkan. Orang yang telah berpengalaman mampu membaca tanda-tanda tersebut. Dalam filsafat, hal ini disebut ranah naumena, yaitu ranah yang tidak bisa dilihat, diraba tetapi bisa dipikirkan.
Mitos sangat berkaitan dengan intuisi, begitu juga logos, sehingga kita dapat mengatakan intuisi merupakan pondasi hidup kita. Contoh kacau kacau intuisi ruang adalah ketidakmampuan membedakan utara-selatan-timur-dan barat. Sedangkan contoh kekacauan intuisi waktu adalah ketidakmampuan mengenali waktu, misalnya di Inggris. Di sana siang tidak sepenuhnya siang sehingga sulit untuk mengidentifikas waktu. Intuisi dapat diperoleh dari aktivitas dan interaksi. Itulah sebabnya mengapa matematika didefinisikan sebagai kegiatan, bukan ilmu. Matematika di definisikan sebagai kegiatan yang meliputi kegiatan mencari pola, kegiatan menyelesaikan masalah, kegiatan investigasi, dan kegiatan berkomunikasi. Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan intuisi.
Mitos, intuisi, gaib (spiritual) ada dalam filsafat. Marilah kita merebut intuisi kembali yang mulai hilang di sekolahan. Kaitannya dengan spiritual, bagaimana meningkatkan kualitas keimanan melalui filsafat. Apapun yang dapat kita bicarakan (pikirkan) adalah urusan dunia, tetapi ibadah meliputi dunia dan akhirat. Alangkah baiknya bila urusan dunia kita memiliki nilai ibadah. Contoh dalam ranah spiritual adalah dalam mengimani para Nabi. Dalam mengimani Nabi, sebenarnya kita tidak dapat melihat wajah beliau, tetapi kita percaya bahwa beliau ada. Cara mengimaninya adalah dengan mengembangkan intuisi. Salah satu cara yang lain adalah karena adanya kitab yang menyebutkannya.
Filsafat itu sangat luas, membaca elegi merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mengembangkan intuisi. Dengan intuisi, diharapkan kita menjadi sopan dan santun. Hukum orang yang tidak sopan dan santun adalah celaka, baik celaka pikir, celaka hati, celaka bicara, celaka penglihatan, maupun celaka fisik. Memperbaiki intuisi itu meliputi menghilangkan kesenjangan antara pikiran dan perasaan. Untuk memperbaiki intuisi harus menggunakan referensi. Memperbaiki intuisi tidak dapat instan, semua ada prosesnya dan memerlukan energi.

Pertanyaan:
Apakah ada batasannya sejauh mana intuisi itu dapat berkembang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar