Kamis, 20 Desember 2012

Refleksi 7



Refleksi Perkuliahan Filsafat Tanggal 17 Desember 2012

Seperti pada perkuliahan sebelumnya, kuliah filsafat pendidikan matematika yang diampu oleh Bapak Marsigit diawali dengan tes jawab singkat kemudian dilanjutkan dengan diskusi atau yang lebih tepat disebut sesi tanya jawab. Berikut ini akan disajikan beberapa pertanyaan dari mahasiswa beserta jawaban dari Bapak Marsigit.
1.      Pertanyaan Lina Dwi A. S : Apakah hakekat angin?
Jawaban:
Objek dalam filsafat itu berdimensi. Dimensi yang paling primitif adalah intuitif, misalnya sejak kapan kita mengenal angin. Jika kita tidak mampu menjawabnya, maka kita menjadi kaum intuisionism dalam hal angin. Intuisi itu sangat penting, karena 90% bagian hidup kita merupakan intuisi. Intuisi muncul karena ada hal yang tidak bisa didefinisikan. Jika kita memakasa untuk membuat definisi, maka dikhawatirkan akan berbeda artinya. Dari intuisi tersebut terbentuklah apa itu angin. Oleh Imanuel Kant dibuatlah 12 kategori di dalam pikiran kita. Cara membentuk kategori tersebut melalui intuitif. Setelah terbentuk, kemudian kategori tersebut digunakan untuk berpikir kembali. Dalam filsafat dikenal 4 tahap komunikasi, yaitu material, formal, normatif, spiritual. Kita dapat mengartikan angin secara material maupun formal yaitu angin dapat berupa badai, topan, yang lazim dipakai dalam bentuk formal. Normatif artinya kajian keilmuan dari angin, misalnya secara fisika, tapi jika merupakan gejala alam dapat menonjol dari ilmu bidangnya, misalnya dari bidang geografi, angin adalah pergerakan. Angin secara spiritual dapat dicari di kitab suci, jika tidak ada berarti pemahaman angin hanya sampai pada bentuk normatifnya.

2.      Pertanyaan Eka Budhiarti: Apakah hakekat dari perceraian?
Jawaban:
Kita dapat melihat arti cerai dokumen resmi. Misalnya dalam undang-undang perkawinan. Ini merupakan arti perceraian secara formal. Secara spiritual pun dapat diartikan apa itu perceraian. Normatifnya dilihat dari baik buruknya suatu perceraian itu.

3.      Pertanyaan Nurmanita: Dalam suatu pernikahan, bila suami/istri dan orang tua sama-sama membutuhkan bantuan, manakah yang seharusnya didahulukan?
Jawaban:
Yang diutamakan adalah komunikasi.

4.      Pertanyaan Cony Devilita: Apakah hakekat keyakinan dan kepercayaan dalam tinjauan agama?
Jawaban:
Ada term yang berkembang, kepercayaan itu naik pagkat/ naik derajat. Setelah ada persoalan lalu disebutlah apa itu kepercayaan. Bahasa pun mengalami kemunduran, misalnya bekas. Dahulu bekas itu dapat digunakan untuk manusia, namun sekarang tidak lazim, sekarang kita menyebutnya dengan mantan. Kalimat-kalimat tersebut dapat mengalami reduksi. Ada juga undang-undang yang mengatur kepercayaan. Iniah bentuk formalnya. Secara formal dapat dilihat dalam dokumen-dokumen yang relevan.

5.      Pertanyaan Rudy Prasetyo: Bagaimana menanggapi keadaan agar tidak semakin terpuruk?
Jawaban:
Misalnya kejadian musibah di Amerika, yang dapat mengibur adalah orang yang lebih tinggi atau memiliki wewenang lebih. Jika sebaya atau sederajat maka hanya menghibur sesaat atau bahkan tidak didengar. Cara menanggapinya adalah dengan ikhtiar dan berdoa. Merasa terpuruk pun dapat merupakan anugerah.

6.      Pertanyaan Rina Susilowati: Bagaimana cara menumbuhkan semangat ketika gagal?
Jawaban:
Setiap hal yang ada dan yang mungkin ada dapat digunakan untuk memotivasi. Kita harus melihat ke bawah agar lebih bersyukur dan termotivasi. Selain itu, kita dapat menentukan tujuan hidup dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Cara selanjutnya adalah dengan komunikasi.

7.      Pertanyaan Tri Wahyuni: Mengapa ada pro dan kontra? Apa sebabnya?
Jawaban:
Hal tersebut merupakan kodrat, sunatullah. Tuhan menciptakan segala sesuatu ini bertolak belakang, mislanya laki-laki-perempuan, siang-malam, dll. Dalam hidup selalu ada pro dan kontra. Pro dan kontra dalam pikiran merupakan ilmu. Tetapi jika di dalam hati merupakan godaan syaitan

8.      Pertanyaan Siti Nurunniyah: Apakah hakekat perubahan?
Jawaban:
Hakekat merupakan ontologi, epistemologinya tidak dpaat dipisahkan. Jika dilihat dari ilmu bidangnya, perubahan adalah berubahnya warna misalnya karena reaksi kimia. Kata-kata berubah pun juga bisa merupakan pengertian intuitif.

9.      Pertanyaan Yunia Indri H:
a.       Jika ada dua orang, satu orang tua satu yang lebih muda. Orang tua dapat disebut dewa bagi yang lebih muda, tapi disisi lain orang yang lebih muda tersebut dapat juga disebut dewa. Apakah syarat-syarat disebut dewa?
Jawaban:
Segala sesuatu dapat disebut dewa dilihat berdasarkan ruang dan waktu. Setiap hal yang ada dan yang mungkin ada dapat berupa dewa. Tapi yang tidak dapat dikejar adalah usia. Jika dilihat dari usia, maka yang lebih tua adalah dewa bagi yang lebih muda
b.      Bagaimana telaah cara membedakan hasil berpikir filsafat?
Jawaban:
Berfikir filsafat dapat dilihat dari kerangkanya. Berpikir filsafat itu melipiti ontologis dan epistemologis, dan aksiologis. Berfilsafat itu adalah pikiran para filsuf. Berfilsafat itu ekstensif dan intensif.

10.  Pertanyaan Ermitasari:
a.       Mengapa ada bencan/gejala alam yang semakin kompleks?
Jawaban:
Bagi orang tua, justru melihatnya semakin sederhana karena ada hal-hal yang telah dilupakan, namun juika kita melihatnya semakin kompleks maka kita telah mampu memahami.
b.      Apakah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai ciptaan Tuhan?
Jawaban:
Semua itu dapat dikatakan hanya sebagian dari ciptaan Tuhan, sebagian ciptaan yang lain misalnya adalah rahmat dan keyakinan. Yang diciptakan bagi diri kita itu belum seberapa. Orang di Inggris tidak akan mampu memahami kota London, karena mereka sibuk dengan ciptaannya sendiri. Kita perlu mensyukuri apa yang ada. Setiap yang ada dan yang mungkin ada wajib disyukuri karena semua itu merupakan rahmat-Nya. Ternyata dari setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi sumber dosa, sehingga selain bersyukur juga memohon ampun.

Minggu, 16 Desember 2012

Refleksi 6



MELIHAT SEGALA SESUATU LEBIH DALAM SECARA FILSAFAT

Perkulihan Filsafat Pendidikan Matematika pada hari Senin, 10 Desember 2012 diawali dengan tes jawab singkat, kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama atau lebih tepatnya disebit sebagai sesi tanya jawab. Berikut ini akan dituliskan beberapa pertanyaan dari mahasiswa beserta jawaban dari Bapak marsigit.
1.      Pertanyaan Yulian Angga: Apakah segala sesuatu di alam semesta ini memiliki pola?
Jawaban:
Sebuah pola bukanlah pola bagi orang yang tidak mengetahui. Kalau kita percaya dan mampu memahami, maka semua telah di desain oleh Tuhan itu memiliki pola, namun kita belum mampu mengulasnya secara keseluruhan. Kita mampu menyatakan suatu benda dan benda yang lainnya berpola jika kita mampu memahami dan meyakininya.

2.      Pertanyaan Rina susilowati:
a.    Apa hakekat perbedaan dalam persatuan?
Jawaban:
Orang itu berbeda dalam banyak hal tapi dapat juga sama dalam banyak hal. Jika dilihat secara mendalam maka semua orang itu berbeda tapi juga sama, misalnya semua orang itu adalah makhluk hidup, semua orang sama-sama membutuhkan makan, semua orang pasti akan mati, namun disisi ain ada juga perbedaannya karena manusia sangat terikat ruang dan waktu. Jika kita memperhitungkan ruang dan waktu, maka tiap orang itu tidak sama.
b.    Kapan sesuatu itu disebut sebagai mimpi?
Jawaban:
Mimpi itu sangat berpengaruh dengan kehidupan yang kita alami. Mimpi dapat berawal dari kesan yang mendalam. Kualitas mimpi pun berbeda-beda. Area mimpi dapat dipelajari dengan menggunakan psikologi dalam ilmu gejala jiwa.

3.      Pertanyaan Ermitasari: Apakah beda cinta dengan sayang?
Jawaban:
Jika dilihat dari persamaannya, sayang dan cinta sama-sama kontekstual dan berdimensi. Keduanya merupakan bagian dari intuisi sehingga kita tidak dapat mendefinisikan dengan jelas apa itu cinta dan sayang, kecuali dengan memberikan gambaran-gambaran yang mendeskripsikannya. Cara membedakan cinta dan sayang adalah melalui intuisi. Pengalamanlah yang dapat membedakannya, karena dari pengalaman itulah kita mampu membentuk pengertian apa itu cinta dan apa itu sayang. Perbedaannya dapat dilihat dari konteksnya. Disini intuisilah yang berperan. Mungkin saja definisi setiap orang berbeda-beda.

4.      Pertanyaan Dwi Kartika Sari: Obyek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada, mengapa yang tidak ada itu tidak termasuk dalam obyek filsafat?
Jawaban:
Obyek filsafat itu tergantung pada ruang dan waktunya. Yang tidak ada itu bisa saja menjadi ada. Obyek filsafat yang tidak ada dapat dikategorikan dalam obyek yang mungkin ada.

5.      Pertanyaan Nurmanita Prima: Bagaimana hakikat guru matematika yang dianggap galak di sekolah?
Jawaban:
Sepertinya kurang tepat jika kita menggunakan istilah hakekat guru yang galak, karena galak tidak dapat didefinisikan. Jika yang dimaksud adalah ciri-ciri guru yang galak, maka kita dapat menyebutkannya, yaitu suka marah, toleransinya kecil, atau suka memaksakan kehendak.

6.      Pertanyaan Arlian Bety: Bagaimana menghadapi orang yang pelit, tidak mau membagi ilmunya dengan orang lain?
Jawaban:
Kita dapat mengandalkan komunikasi, namun jika yang bersangkutan tidak mau, janganlah sekali-kali kita memaksanya, karena ada hal-hal yang tidak mungkin dapat kita lakukan walaupun demi hal yang lebih baik. Dalam bertanya, metode yang digunakan itu juga penting. Pada dasarnya dalam hal pengetahuan, kita harus membuka diri, siapa saja yang membutuhkan silahkan mengambil ilmu kita, kita harus menghargai mereka yang ingin belajar.
Kita berbeda dengan warga negara kapitalis. Orang-orang di sana beorientasi bisnis, maka mereka mulai memberi harga pada apa yang ia pikirkan. Di Amerika ada istilah teacher pays teacher. Ide-ide yang dibuat dibayar oleh orang lain yang membutuhkan.

7.      Pertanyaan Naafi: Bagaimana cara memberikan pemahaman pada guru tentang matematika?
Jawaban:
Kita jangan melihat orang lain sebagai obyek. Alangkah baiknya jika kita bersama sama dengan mereka berdiskusi dan saling memberikan masukan. Sehingga kita bisa sama-sama belajar. Baiknya guru itu sendiri yang memiliki keinginan untuk belajar. Jangan kita yang memberikan pemahaman pada guru, tapi guru yang seharusnya meng-construct pengetahuannya sendiri.

8.      Pertanyaan Felisitas:
a.    Apakah penyebab krisis multi-dimensi?
Jawaban:
Penyebab krisis multi-dimensi adalah guru. Contohnya adalah perilaku guru yang tidak mau bersama-sama memberi masukan. Guru yang menganggap siswa sebagai tong kosong, tidak mau memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri.
b.    Mengapa belajar filsafat itu sulit?
Jawaban:
Karena kita mempelajarinya secara ekstensif dan intensif, yaitu seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, meliputi yang ada dan yang mungkin ada.

9.      Pertanyaan Siti subekti: Apakah yang dimaksud hermenetika?
Jawaban:
Hermenetika artinya terjemah dan menerjemahkan, dalam budaya kita disebut sebagai silaturahim. Jika mempelajari matematika, guru harus memfasilitasi agar siswa mampu bersilaturahim dengan matematika.

10.  Pertanyaan Rudi Prasetyo: Bagaimana mengalahkan kemalasan?
Jawaban:
Malas bisa dipengaruhi dari fisik kita. Misalnya kita adalah orang gemuk, maka godaan orang gemuk itu mudah tidur. Tetapi tidak semua orang gemuk seperti itu. Berfilsafat itu dapat membuat badan menjadi kurus, karena mengerti itu dapat menyebabkan tidak bahagia.

11.  Pertanyaan Aries Saputra: Secara filsafat apakah ada kaitan antara khayalan dengan cita-cita?
Jawaban:
Iya tentu. Cita-cita adalah khayalan tapi khayalan itu belum tentu cita-cita. Cita-cita merupakan khayalan yang tersistem. Ada landasan, alasan, dan latar belakangnya. Cita-cita dapat juga disebut khayalan yang dapat dipertanggungjawabkan.

12.  Pertanyaan Siti zainab: Apakah hakekat sombong?
Jawaban:
Sombong itu bertingkat-tingkat, dapat dilihat dari sudut pandang dari orang awam, psikologi, sampai spiritual. Dalam spiritual, sombong itu berhubungan dengan setan. Tanpa didefinisikan, sombong dapat diartikan secara intuisi.

Sabtu, 15 Desember 2012

Refleksi 5


Ika Kusumawati
09301241020
Pend. Matematika Sub 09

Mengenal Mitos Filsafat
Filsafat itu merupakan transformasi antara makro (universal) dan mikro (didi sendiri). Semua yang ada di dunia ini bermanfaat, demikian juga dalam berfilsafat, misalnya mitos. Mitos adalah tidak mengerti ilmunya tetapi tetap melakukannya. Anak kecil belajar menggunakan mitos. Orang tua juga mempelajari mitos, tetapi turut memperhatikan ruang dan waktu, misalnya sholat hanya karena ikut-ikutan tanpa mengetahui tujuannya. Hal tersebut termasuk mitos. Dalam kehidupan pun, kita mengenal mitos, misalnya segala hal yang behubungan dengan yang gaib. Pengaruh mitos itu kuat. Terkadang orang memikirkannya saja tak berani. Jika kita ingin memasuki darah mitos, maka perbanyaklah berdoa pada Tuhan
Mitos dapat dibuat sendiri dengan tujuan tertentu, misalnya untuk menakut-takuti orang. Dalam ibadah dan hidup kita, kita harus yakin bahwa yang sudah terjadi itu adlaah yang terbaik, apapun itu, baik yang gagal maupun yang sukses. Kegagalan itupun bisa jadi yang terbaik bagi kita, karena tidak ada sekecil zarah pun di dunia ini yang tidak berharga untuk kita. Maka semua hal yang ada dan yang mungkin ada adalah karuniaNya.
Mimpi yang kita alami pun dapat menciptakan mitos. Mimpi berawal dari kesan yang mendalam. Misalnya hari ini kita mengalami kebahagiaan yang sangat, maka bisa jadi mimpi kita nanti malam berkaitan dengan yang memmbuat kebahagiaan tersebut. Jika kita membicarakan mitos, maka hal yang dekat dengan mitos yaitu ramalan. Kita bisa percaya tidak percaya pada paranormal. Karana terkadang yang diucapkan itu tidak sampai ke dalam ranah pikir kita (logika) tetapi kenyataannya terjadi. Bisa saja ia mengamati dari hal-hal yang terjadi lalu menyimpulkannya.
Contoh secara analoginya adalah mendahului kendaraan (menyalip) dari kiri. Secara hakiki, orang tersebut telah memiliki potensi untuk berbahaya, sehingga harus disadarkan. Orang yang telah berpengalaman mampu membaca tanda-tanda tersebut. Dalam filsafat, hal ini disebut ranah naumena, yaitu ranah yang tidak bisa dilihat, diraba tetapi bisa dipikirkan.
Mitos sangat berkaitan dengan intuisi, begitu juga logos, sehingga kita dapat mengatakan intuisi merupakan pondasi hidup kita. Contoh kacau kacau intuisi ruang adalah ketidakmampuan membedakan utara-selatan-timur-dan barat. Sedangkan contoh kekacauan intuisi waktu adalah ketidakmampuan mengenali waktu, misalnya di Inggris. Di sana siang tidak sepenuhnya siang sehingga sulit untuk mengidentifikas waktu. Intuisi dapat diperoleh dari aktivitas dan interaksi. Itulah sebabnya mengapa matematika didefinisikan sebagai kegiatan, bukan ilmu. Matematika di definisikan sebagai kegiatan yang meliputi kegiatan mencari pola, kegiatan menyelesaikan masalah, kegiatan investigasi, dan kegiatan berkomunikasi. Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan intuisi.
Mitos, intuisi, gaib (spiritual) ada dalam filsafat. Marilah kita merebut intuisi kembali yang mulai hilang di sekolahan. Kaitannya dengan spiritual, bagaimana meningkatkan kualitas keimanan melalui filsafat. Apapun yang dapat kita bicarakan (pikirkan) adalah urusan dunia, tetapi ibadah meliputi dunia dan akhirat. Alangkah baiknya bila urusan dunia kita memiliki nilai ibadah. Contoh dalam ranah spiritual adalah dalam mengimani para Nabi. Dalam mengimani Nabi, sebenarnya kita tidak dapat melihat wajah beliau, tetapi kita percaya bahwa beliau ada. Cara mengimaninya adalah dengan mengembangkan intuisi. Salah satu cara yang lain adalah karena adanya kitab yang menyebutkannya.
Filsafat itu sangat luas, membaca elegi merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mengembangkan intuisi. Dengan intuisi, diharapkan kita menjadi sopan dan santun. Hukum orang yang tidak sopan dan santun adalah celaka, baik celaka pikir, celaka hati, celaka bicara, celaka penglihatan, maupun celaka fisik. Memperbaiki intuisi itu meliputi menghilangkan kesenjangan antara pikiran dan perasaan. Untuk memperbaiki intuisi harus menggunakan referensi. Memperbaiki intuisi tidak dapat instan, semua ada prosesnya dan memerlukan energi.

Pertanyaan:
Apakah ada batasannya sejauh mana intuisi itu dapat berkembang?

Minggu, 18 November 2012

Refleksi 4



Belajar Menembus Ruang dan Waktu

Berfilsafat adalah proses olah pikir, dapat berarti olah pikir sendiri, olah pikir bersama,  olah pikir bangsa, atau olah pikir dunia. Apapun olah pikirnya, berfilsafat harus menggunakan referensi, yaitu pikiran para filsuf. Berbagai penamaan aliran filsafat dapat dilihat dari obyeknya. Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Obyek itu sendiri dapat dipersempit menjadi:
1.      Obyeknya adalah alam
Orang-orang Yunani berpikir segala sesuatu yang ada di alam berasal dari apa, sehingga disebut filsafat alam.
2.      Obyeknya adalah manusia: jika obyeknya adalah manusia maka filsafatnya adalah filsafat manusia.
3.      Obyeknya adalah spiritual: jika obyeknya adalah spiritual maka filsafatnya adalah filsafat teologi
Dilihat dari letak/lokasi obyeknya, maka dapat dibagi menjadi obyek di dalam dan obyek di luar. Obyek di dalam bersifat tetap, hal ini sejalan dengan pikiran Plato dan menghasilkan filsafat idealisme sedangkan obyek di luar bersifat berubah, sejalan dengan pikiran Aristoteles dan menghasilkan filsafat realisme.
Jika dilihat dari banyaknya obyek, maka ada 3 aliran filsafat, yaitu monoisme, dualisme, dna pluralisme. Jika obyeknya satu maka filsafatnya adalah monoisme. Monoisme bearti yang benar satu, yaitu kausa prima (Tuhan). Dualisme adalah jika yang benar adalah dua, sedangkan jika yang benar banyak maka filsafatnya adalah pluralisme.
Jika kita berbicara tentang filsafat yang berkaitan dnegan olah pikir, maka kita tidak akan terlepas dari membicarakan manusia. Manusia itu tidak sempurna dan terbatas. Ketidaksempurnaan itu dapat digunakan untuk membedakan antara unsur satu dengan unsur yang lain. Manusia dapat menembus ruang dan waktu atau disebut juga mengalami perubahan. Menembus ruang dan waktu dapat dilakukan intensif, ekstensif, merujuk pikiran para fisuf, dan mengorespondensi dengan pengalaman.
Subyek yang menembus ruang dan waktu itu mengalami dimensi wantu dan dimensi ruang. Menurut Immanuel Kant, dimensi waktu itu berurutan, berkelanjutan, dan berkesatuan. Sedangkan dimensi ruang dapat terdiri dari dimensi nol, dimensi dua, dimensi tiga, dst. Jika dikembangkan dengan bahasa analog, maka dimensi ruang adalah pikiran. Ruang terdiri dari wadah dan isi. Jika kita membicarakan ruang, maka kita tidak dapat terlepas dari komponen ruang. Komponen ruang terdiri dari:
1.      Material: adalah bentuk fisik, konkrit
2.      Formatif: adalah yang dtulis secara resmi.
3.      Normatif: adalah ilmu, aturan, tata krama.
4.      Spiritual
Sedangkan ruang kaum kapitalis terdiri dari:
archaic à tribal à tradisional à fodal à modern à pos modern à pos pos modern
Orang yang berilmu dalam pendidikan matematika adalah orang yang sopan terhadap apa yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika dengan cara mengerti, menerapkan, dan mereflekikan. Sopan berarti berhadapan dengan sistem yang meletakkan unsur spiritual pada posisi yang paling atas. Namun di sisi lain, kita mengalami gejolak globalisasi yaitu berhadapan dengan negara power nowdengan 4 ujung tombak, yaitu kapitalis, utilitarism, pragmatism, dan hedonism. Kapitalis adalah aliran yang memandang segala sesuatu diukur dari laju ekonomi. Utilitarism adalah aliran yang memandang segala sesuatu dari manfaatnya. Pragmatism adalah aliran yang menghasilkan budaya serba cepat. Sedangkan hedonism adalah aliran yang mengejar rasa senang, sehingga terkadang lupa dengan norma agama. Walaupun kita mengalami gejolak dengan negara power now, namun kita tidak dapat terlepas dari negara terebut. Negara power now meletakkan agama di bagaian tradisional.
Kemudian pertanyaan yang timbul adalah siapakah yang dapat menembus ruang dan waktu? Yang menembus ruang dan waktu itu tergantung dari sudut pandang material, formal, normatif dan spiritual. Dimensi menembus waktu setiap orang itu berbeda-beda. Beberapa bekal yang perlu diperhatikan ketika kita membicarakan ruang dan waktu adalah:
1.      fenomenologi
Fenomenologi terdiri dari abstraksi dan idealisasi.
a.         Abstraksi yaitu memilih atau mereduksi.
Kodrat manusia adalah memilih dan terpilih. Manusia dapat dipandang sebagai makhluk sempurna namun juga dapat dipandang sebagai makhluk terbatas.
Husserl menciptakan rumah epocheuntuk menyimpan segala sesuatu yang tidak dibutuhkan.
b.         Idealisasi menganggap sempurna apa yang ada. Idealisasi berada dalam pikiran.
2.      fondasionalism-antifondasionalism.
Semua makhluk beragama adalah kaum fondasionalism karena meletakkan Tuhan sebagai kausa prima, yaitu sebab ang utama dan pertama. Fondamen adalah permulaan. Contoh fondamen dalam pernikahan adalah ijab qobul. Hakekat manusia adalah fondasionalism karena kegiatan manusia dapat ditelusuri kapan permulaannya.Namun dalam kenyataannya ada beberapa hal yang tidak dapat kita definisikan, misalnya menentukan kapan dimulainya pagi. Hal ini yang nantinya memunculkan antifondasionalism. Contoh antifondasionalism adalah pertanyaan kapan kita dapat membedakan besar dan kecil, jauh dekat, dsb.
Pertanyaan lainnya adalah apakah yang dimaksud dengan bilangan 2? Kita tidak dapat mendefinisikan bilangan 2.  Hal inilah yang memunculkan persoalan dalam matematika karena kita mencoba mendefinisikan bilangan 2, padahal bilangan 2 adalah intusi. Persoalan matematika bukan berasal dari yang muda tetapi dari orang-orang dewasa yang telah mengenal matematika. Anak-anak tidak memerlukan definisi bilangan 2, yang mereka butuhkan adalah contoh hal yang konkrit yang dapat ia pegang, lihat, dan rasakan. Matematika menjadi sulit karena kebanyakan guru menekankan definisi, padahal banyak unsur matematika yang berasal dari intusi.
Berbicara tentang guru, maka guru dapat dikatakan intuisionism maupun fondasionalism. Seorang guru dikatakan intuisionism karena mengajar matematika dengan metode intuisi. Seorang guru dikatakan fondasionalism karena kegiatan pembelajarannya diawali dengan berdoa. Dari perkembangan filsafat sampai zaman Auguste Compte menciptakan ilmu bidang, kita memiliki banyak ruang. Akibatnya munculah istilah-istilah baru, misalnya bahasa sandi. Istilah-istilah tersebut biasabya diproduksi oleh orang yang memiliki otoritas, karena ia akan diperhatikan dan diikuti banyak orang.

Pertanyaan:
Apakah ada batasan sejauh mana kita dapat menembus ruang dan waktu?