Refleksi 2
(Senin, 8 Oktober 2012)
ALIRAN FILSAFAT, TOKOH, DAN IDENYA
Abstrak
Segala
sesuatu yang ada di bumi ini pasti memiliki sejarah. Sejarah tersebut mengalami
perkembangan dari waktu ke waktu, tak terkecuali dengan filsafat. Filsafat
adalah ilmu tentang olah pikir. Dalam perkembangannya filsafat mengalami pasang
surut. Perkembangan filsafat dimulai pada masa Yunani Kuno. Pada masa ini mulai
bemunculan para pemikir-pemikir yang nantinya disebut sebagai para filsuf,
seperti Thales, Parmenides, Plato, Socrates, Heraclitus, dan Aristoteles. Pada
masa ini muncul berbagai aliran filsafat, seperti aliran filsafat tetap oleh
Parmenides, aliran idealism oleh Plato, aliran dialectic oleh Socrates, aliran
berubah oleh Heraclitus, dan aliran realism oleh Aristoteles.
Pada
masa berikutnya adalah Masehi. Pada awal Masehi, perkembangan filsafat menurun.
Hal ini disebabkan oleh kebangkitan para gerejawan yang membatasi perkembangan
filsafat. Berikutnya adalah masa kegelapan, terjadi pada 12 M – 13 M. Disebut
masa kegelapan karena filsafat mengalami kemunduran, bahkan dapat dikatakan
filsafat itu mati suri. Semua yang tidak tunduk terhadap eraturan dan keyakinan
gereja akam dihukum. Galeleo Galelei dan Bruno menjadi korban pada masa ini,
karena mereka menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya, hal ini
bertentangan dengan keyakinan gereja saai itu, yaitu bumi sebagai pusat tata
surya.
Perkembangan
filsafat selanjutnya adalah pada masa pengerahan, terjadi pada abad 15 M. Pada
abad ini filsafat mulai mengalami kemajuan. Munculnya Copernicus yang dapat
membuktikan teori heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) membuat
filsafat mulai diperhitungkan lagi. Ilmu filsafat mengalami perkembangan dan
memasuki masa awal zaman modern, yaitu pada abad 16 M. Pada masa ini, golongan
Kristen sebagai penguasa mulai mengalami kehancuran dan munculah kembali
filsafat dengan aliran-aliran baru. Pada zaman ini, muncul aliran rasionalisme oleh Rene Descartes. Ia beranggapan
bahwa sumber pengetahuan adalah rasio dan muncul pula aliran empirisme oleh
David Hume yang beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah inderawi atau
pengalaman.
Aliran rasionalisme dan empirisme
merupakan dua aliran yang berbeda, sehingga muncul pertentangan diantara kedua
aliran tersebut. Munculah Immanuel Kant dengan teore kritisme yang memadukan
dua aliran yang bertentangan tesebut. Ini terjadi di abab 17 M – 18 M. Pada
abad ini muncul pula Auguste Compte yang mengembangkan ilmu dan metode ilmiah
untuk semua bidang. Perkembangan filsafat tidak berhenti sampai di sini,
perkembangan filsafat justru semakin pesat. Filsafat memasuki zaman pos modern,
hal ini ditandai dengan munculnya berbagai aliran filsafat, seperti pragmatism
(pragmatism
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya
sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara
praktis), utilitarian (segala sesuatu ditinjau
dari segi kebermanfaatan), capitalis, dan hedonism (kebahagiaan yang didasarkan
pada kenikmatan, kesenangan). Selanjutnya filsafat terus berkembang sampai saat
ini, yang memasuki zaman pos pos modern. Filsafat saat ini berjalan seiring
dengan perkembangan kehidupan. Filsafat bersifat kontekstual. Ada pula aliran
filsafat bahasa. Filsafat
bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Filsafat telah menyatu dengan kehidupan
sehari-hari. Filsafat sudah dapat diterima dan dilibatkan dalam kehidupan
sehari-hari, bahkan sudah dibuka sekolah-sekolah filsafat, filsafat juga
dijadikan sebagai salah satu mata kuliah.
Keywords: Yunani Kuno, Masehi, Zaman kegelapan,
Zaman pengerahan, awal zaman modern, zaman modern, zaman pos modern, zaman pos
pos modern.
A.
Pendahuluan
Sebelum mempelajari suatu hal, maka hal pertama yang
harus diketahui adalah pengertiannya. Pengertian tersebut dapat kita peroleh
dari sejarah ataupun perkembangannya dari masa ke masa. Dalam hal ini kita akan
mempelajari tentang perkembangan filsafat. Filsafat mengalami perkembangan dan
pasang surut. Perkembangan filsafat dimulai dari zaman Yunani Kuno hingga saat
ini. Sebelum membahas tentang perkembangan filsafat, kita akan bahas dahulu
pengertian filsafat.
Kata
falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari
bahasa Arab yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Kata
ini merupakan gabungan dari kata kata philia yang berarti persahabatan, cinta
dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Sehingga fisafat dapat diartikan sebagai
“pencinta kebijaksanaan”Meski istilah philosophia (Φιλοσοφία) pertama kali
dimunculkan oleh Pythagoras, namun orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar
filsuf ialah Thales (640-546 S.M.) dari Mileta. Ia merupakan seorang Filsuf
yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan
Yunani. Sejak zaman itu filsafat terus
mengalami perkembangan. Perkembangan filsafat dapat digolongankan menjadi
beberpaa periode. Berikut ini akan dibahas tentang periode perkembangan
filsafat, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang terkenal pada periode itu.
B.
Pembahasan
Perkembangan filsafat dapat dibagi dalam beberapa
periode, berikut ini akan dibahas periode tersebut beserta tokoh-tokoh yang
terkenal pada periode itu.
1. Yunani Kuno
Yunani Kuno merupakan awal masa perkembangan filsafat. Pada
masa ini ahli filsafatnya adalah Thales, Anaximandros, dan Anaximenes yang
dianggap sebagai bapak-bapak fisafat
dari Mileta. Mereka sudah mulai mempermasalahkan yang
dianggap sebagai asal mula segala/unsur induk (arché ) seperti yang dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM)
bahwa sumber kehidupan adalah air. Makhluk
yang pertama kali hidup adalah ikan dan manusia yang pertama kali terlahir dari
perut ikan. sedangkan
Anaximander (sekitar 610 -540 SM)
berpendapat arché adalah
sesuatu “yang tak terbatas”, Anaximenes (sekitar 585 – 525 SM berpendapat
“udara” yang merupakan unsur induk dari segala sesuatu.
Setelah mereka bertiga, kemudian muncullah pemikir lain yang
lebih berpengaruh lagi terhadap perkembangan fisafat, seperti Parmenides,
Plato, Socarates, Heraclitos, dan Aristoteles.
a.
Parmenides
Dalam
menjawab tentang asal mula segala sesuatu, ia menyatakan bahwa segala sesuatu
itu sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah). Dia mengatakan bahwa kebenaran
itu ada yaitu kebenaran yang bulat dan penuh, yang dimaksud di sini adalah
Tuhan,caranya dengan menggunakan akal atau logika. Selain itu, dia juga
menganut faham monotheisme (Yang ada itu satu dan tetap, yang banyak tidak
ada).
Menurut Parmenides, dunia yang nyata ini sebenarnya
tidak pernah berubah. Perubahan yang terjadi di alam ini, seperti tumbuhdan
layunya pohon, pergantian musim atau kematian adalah ilusi indera-indera kita.
Bagi Parmenides kita harus mengikuti ‘jalan kebenaran’(aletheia) yang didapat
melalui akal bukan panca indera.
Dalam
The Way of truth, Parmadines
bertanya: Apa standar kebenaran dan apa ukur realitas? Bagaimana hal itu dapat
dipahami? Lalu ia menjawab: Ukurannya ialah logika yang konsisten. Oleh karena
itu Parmenides disebut sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat.
b.
Heraclitus
Heraclitus
hidup pada sekitar th 500an SM. Dia mengagetkan manusia awam ketika ia berkata
bahwa sesungguhnya yang sungguh-sungguh itu ada ,yang hakikat, ialah gerak dan
perubahan dan paham relatifisme semakin mempunyai dasar setelah Heraclitus
menyatakan engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air
sungai iu selalu mengalir.
Menurut
heraclitus alam semesta ini dalam keadaan berubah, sehingga kebenaran itu
selalu berubah, tidak tetap. Heraclitus mengemukakan bahwa segala sesuatu itu
“mengalir” (“panta rhei”) dan berubah terus-menerus.
c.
Socrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu
relative telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, menggoncangkan
keyakinan agam. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacaun kehidupan.Socrates
bangkit dan meyakinkan orang-orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu
relative, ada kebenaran yang umum yang dapat di pegang oleh semua orang.
Kehidupan Socrates ( 470 – 399 SM ) berada di tengah –tengah keruntuhan
imperium Athena. Socrates menggunakan metode yang bersifat praktis, yaitu
melalui percakapan-percakapan dan menganalisis pendapat-pendapat tentang salah
dan tidak salah,adil dan tidak adil,berani dan pengecut ,dll.
Metode yang digunakan Socrstes
disebut Dialektika, dari kata kerja Yunani ”dialegethai”
(bercakap-cakap/dialog). Ada dua penemuan Socrates yang berkenaan dengan
pengetahuan, yaitu induksi dan definisi. Induksi yaitu pemikiran yang bermula
dari pengetahuan khusus, lalu menyimpulkan yang umum sedangkan definisi yaitu
mengupayakan sifat umum kemudian menyisihkan ciri khusus. Orang sofis
beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya,tidak ada
pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan
kepada orang-orang sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi.
d.
Plato
Menurut
Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih
dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia lalu memiliki
sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran,
keadilan, dan sebagainya. Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya
rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika.
Plato
adalah salah satu dari filsuf besar Yunani yang hidup sekitar abad ke-4 SM. Plato
mentransformaiskan pemikirannya ke wilayah religius dengan gagasannya tentang
ide dan cinta atau eros sebagai pendorong gerak untuk mencari hakikat dari
kehidupan.
e.
Aristoteles
Menurut
Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang
menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan
indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki
akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya
oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan
ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain.
Aristoteles
menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh
pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode
empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan
yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung
unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi
penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji, dan
keabsahan cara berfikir sedangkan dalam metode empiris-induktif
pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis
untuk menyusun pernyataan yang berlaku universal. Aristoteles mengandalkan
pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna.
Masa
Yunani kuno dapat diibaratkan dengan gunung-gunung. Maksudnya adalah masa
bermunculan para pemikir-pemikir dan aliran filsafat.
2. Masehi
Mulai abad
permulaan masehi, perkembangan filsafat beralih ke Eropa. Hal ini disebabkan
kekuasaan kerajaan Roma yang luas sekali. Pemikiran filsafat di Eropa diwarnai
dengan unsur-unsur baru (Agama katholik) yang mendominasi pemikiran filsafat
pada masa itu.
Masa ini merupakan
masa gerejawan membatasi berfilsafat, karena berfilsafat sangat membahayakan
bagi agama Kristen khususnya pihak gerejawan. Dan yang ditonjolkan dalam masa
ini adalah hubungan antara agama dengan filsafat karena keduanya tidak dapat
dipisahkan, dan dengan keduanya manusia akan memperoleh pengetahuan yang lebih
jelas.
Pada
masa ini terjadi pertentangan antara gereja yang diwakili oleh para pastur dan
para raja yang pro kepada gereja, dengan para ulama filsafat. Sehingga pada
masa ini filsafat mengalami kemunduran. Para raja membatasi kebebasan berfikir
sehingga filsafat seolah-olah telah mati suri. Ilmu menjadi beku, kebenaran
hanya menjadi otoritas gereja, gereja dan para raja yang berhak mengatakan dan
menjadi sumber kebenaran.
3. Jaman
Kegelapan (Abad 12 M – 13 M)
Filsafat yunani
telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban yunani
dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia. Filsafat yunani telah
menyebar dan mempengaruhi berbagai bangsa dianataranya adalah bangsa Romawi,
karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu, sehingga munculah filsafat Eropa yang merupakan penjelmaan dari filsafat Yunani.
dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia. Filsafat yunani telah
menyebar dan mempengaruhi berbagai bangsa dianataranya adalah bangsa Romawi,
karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu, sehingga munculah filsafat Eropa yang merupakan penjelmaan dari filsafat Yunani.
Filsafat pada
masa ini dapat dikatakan abad kegelapan, karena
pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan
terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin
gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang
bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad
dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati. Pada zaman ini keyakinan Gereja mempercayai bumi sebagai pusat tata surya, sehingga saat Galileo mengemukakan teori Heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat tata surya yang bertentangan dengan keyakinan gereja, maka Galileo mendapat hukuman diasingkan hingga ia meninggal. Bruno seorang pendeta yang mendukung Copernicus juga dihukum mati.
pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan
terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin
gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang
bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad
dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati. Pada zaman ini keyakinan Gereja mempercayai bumi sebagai pusat tata surya, sehingga saat Galileo mengemukakan teori Heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat tata surya yang bertentangan dengan keyakinan gereja, maka Galileo mendapat hukuman diasingkan hingga ia meninggal. Bruno seorang pendeta yang mendukung Copernicus juga dihukum mati.
4. Abad 15M (Zaman Pengerahan)
Adanya temuan
Copernicus tentang teori Heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat tata Surya
mengakibatkan runtuhnya teori Geosentris. Dengan adanya teori ini, maka
keberadaan filsafat mulai mengalami pencerahan. Dapat dikatakan bahwa filsafat
dalam masa ini ibarat sungai-sungai. Walaupun airnya tak deras, namun sangat
bermanfaat.
5. Abad 16 M (Jaman modern)
Pada masa ini Kristen yang berkuasa dan menjadi sumber
otoritas kebenaran mengalami kehancuran. Berbagai pemikiran Yunani muncul, alur
pemikiran yang mereka anut adalah rasionalitas, dan empirisrme. Para filsuf
zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau
ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri.
Namun tentang aspek mana yang berperan ada dua aliran berbeda yang dapat
menjawab pertanyaan tersebut.
a.
Aliran
rasionalisme oleh Rene Descartes. Ia beranggapan bahwa sumber pengetahuan
adalah rasio, kebenaran pasti berasal dari rasio (akal).
b.
Aliran
empirisme oleh David Hume. Ia meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu,
baik yang batin, maupun yang inderawi.
Perkembangan filsafat pada zaman ini
dapat diibaratkan dengan sungai-sungai. Sungai tersebut terus mengalir menuju
laut yang artinya terus berkembang menuju kejayaan.
6. Abad 17-18 M
Aliran
rasionalisme dan empirisme adalah dua aliran yang saling bertolak belakang. Untuk
menanggulangi perselisihan diantara pengikut aliran tersebut, hadirlah Immanuel
Kant. Ia berusaha mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan
filsafatnya yang dinamakan Kritisisme (aliran yang kritis). Aliran Kritisme Immanuel Kant merupakan gabungan dari
dua pendekatan yang bertentangan tersebut. Perkembangan filsafat pada zaman Immanuel
Kant dapat diibaratkan dengan muara sungai, karena sudah mengalami sedikit
pencerahan menuju kejayaan.
Para murid Kant tidak puas terhadap batas kemampuan akal,
alasannya karena akal murni tidak akan dapat mengenal hal yang berada di luar
pengalaman. Untuk itu dicari suatu sistem metafisika yang ditemukan lewat dasar
tindakan. Aliran ini mulanya dikembangkan oleh Auguste Comte, yaitu aliran positivism yang menepatkan
akal (rasio) pada tempat yang sangat penting. Menurut positivisme pengetahuan tidak pernah boleh
melebihi fakta-fakta. Meskipun positivisme mengandalkan pengalaman dalam
mendapatkan pengetahuan, namun mereka membatasi diri pada pengalaman objektif
saja.
Menurut Comte pengembangan pengetahuan manusia baik
perseorangan maupun umat manusia secara keseluruhan, melalui tiga zaman .
Ketiga zaman itu adalah Zaman Teologis,
Zaman Metafisika dan zaman Ilmiah atau Positif.
a. Zaman Teologis
Pada
zaman teologis, manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat
kuasa - kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala - gejala
tersebut. Kuasa - kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan
kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan
yang lebih tinggi dari pada makhluk – makhluk insan biasa.
Zaman
teologis dibagi lagi menjadi tiga periode berikut :
i.
Animisme.
Tahap
Animisme merupakan tahap paling primitif karena benda-benda dianggap mempunyai
jiwa.
ii.
Politeisme.
Tahap
Politeisme merupakan perkembangan dari tahap pertama. Pada tahap ini manusia
percaya pada dewa.
iii.
Monoteisme.
Tahap
Monoteisme ini lebih tinggi dari pada dua tahap sebelumnya, karena pada tahap
ini, manusia hanya memandang satu Tuhan sebagai Penguasa.
b. Zaman Metafisis
Pada
zaman ini kekuatan yang tadinya bersifat adi kodrati,diganti dengan
kekuatan-kekuatan yang mempunyai pengertian abstrak, yang diintegrasikan dengan
alam.
c. Zaman Positif
Zaman
ini dianggap Comte sebagai zaman tertinggi dari kehidupan manusia. Alasanya
ialah pada zaman ini tidak ada lagi
usaha manusia untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang
fakta-fakta. Pada zaman inilah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang
sebenarnya.
Perkembangan
filsafat pada jaman ini dapat diibaratkan dengan pantai atatu bendungan, karena
dari yang sebelumnya, fisafat pada zaman ini telah mengalami kemajuan. Seperti
hal nya bendungan yang memiliki banyak manfaat, begitu juga filsafat pada zaman
ini.
7. Abad 18 M/19 M (Jaman
Pos Modern)
Dalam masa ini perkembangan ilmu
rekayasa genetika dan teknologi komputer dan informasi sangat pesat.
a.
Pragmatism
Kata
pragmatisme berasal dari bahasa yunani yaitu “pragma” yang berarti tindakan
atau perbuatan, “isme” yang artinya aliran, ajaran atau paham. Jadi
pragmatism adalah Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang
benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan
akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
b.
Utilitarian
Utilitarianisme mengajarkan tiap
manusia untuk meraih kebahagiaan (kenikmatan) terbesar untuk orang terbanyak.
Karena, kenikmatan adalah satu-satunya kebaikan intrinsik, dan penderitaan
adalah satu-satunya kejahatan intrinsik. Pada masa ini dikenal juga asas
Manfaat atau Kegunaan, yaitu asas yang menyuruh setiap orang untuk melakukan
apa yang menghasilkan kebahagiaan atau kenikmatan terbesar yang diinginkan oleh
semua orang untuk sebanyak mungkin. Pada sisi lain, para utilitarian menolak
eksperimen-eksperimen scientific tertentu yang melibatkan binatang, karena kebahagiaan
atau kenikmatan harus dipelihara untuk semua makhluk.
c.
Capitalis
d.
Hedonism
Hedonisme,menganjurkan manusia untuk mencapai
kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmatan, kesenangan. Pelopor aliran ini
adalah Cyrenaiccs ( 400 SM) yang menyatakan hidup yang baik adalah
memperbanyak kenikmatan malalui kenikmatan indera dan intelak. Sebaliknya
Epikurus ( 341 – 270 SM ) menyatakan bahwa kesenangan dankebagian adalah tujuan
hidup manusia.
8. Zaman
Pos Pos Modern
Zaman pos pos
modern atau zaman kontemporer dimulai pada abad ke 20 hingga sekarang. Filsafat
Barat kontemporer memiliki sifat yang sangat heterogen. Sebagian besar filsuf
adalah spesialis di bidang khusus, seperti matematika, fisika, sosiologi, dan
ekonomi. Akan tetapi bidang fisika menempati kedudukan paling tinggi dan paling
banyak dibicarakan oleh para filsuf.
Filsafat bahasa salah
satu aliran filsafat yang berkembang pada masa pos pos modern. Filsafat bahasa adalah
ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kedudukan
bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis
linguistik.
Perkembangan
filsafat pada masa ini dapat diibaratkan dengan laut dalam. Filsafat telah
menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ibarat laut dalam, maka airnya tenang,
begitu juga dengan filsafat pada zaman ini. Filsafat sudah dapat diterima dan
dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sudah dibuka sekolah-sekolah
filsafat, filsafat juga dijadikan sebagai salah satu mata kuliah.
C.
Penutup
Kesimpulan
Ilmu filsafat
yang kita kenal selama ini terus mengalamai perkembangan. Perkembangan filsafat
dimulai saat zaman Yunani Kuno dengan tokoh yang terkenal adalah Parmenides
dengan aliran tetap, Heraclitus dengan aliran berubah, Socrates dengan aliran dialectic, Plato dengan aliran idealisme, dan Aristoteles dengan aliran
realisme. Perkembangan selanjutnya
yaitu masa Masehi dan kegelapan, dimasa itu filsafat mengalami kemunduran
karena terkekang oleh kaun gerejawi. Berikutnya perkembangan filsafat memasuki
masa pengerahan (abad 15 M) yang ditandai dengan munculnya Copernicus dengan
teori Heliosentris yang mematahkan keyakina kaum gerejawi.
Keberadaan ilmu
filsafat mulai berkembang lagi. Kemudian memasuki awal zaman modern, yaitu abad
16 M, muncullah Rene Descartes dengan aliran realisme (kebenaran berasal dari akal) dan David Hume dengan aliran
Empirisme (kebenaran berasal dari
pengalaman). Kedua aliran ini saling bertentangan sehingga mendorong munculnya
aliran baru yang memadukan kedua aliran tersebut, yaitu Kritisme oleh Immanuel Kant. Peristiwa ini merupakan memasukinya
filsafat pada zaman modern (17M- 18M), lalu muncul pula Auguste Compte dengan
metode ilmiah untuk berbagai bidang. Ia mencetuskan paham positivisme, yaitu paham yang menggunakan kebenaran harus dilandasi
fakta-fakta. Memasuki zaman pos modern ditandai dengan munculnya aliran-aliran
baru, seperti aliran pragmatism,
utilitarian, capitalism, dan
hedonism.Perkembangan filsafat yang berikutnya adalah masa pos pos modern,
yaitu memasuki abak 20 hingga sekarang ini. Filsafat aat ini telah menyatu dan
berjalan beriringan dengan kehidupan manusia.
D. Daftar Pustaka
Anonim.
2012. [online] available at http://www.scribd.com/doc/50644767/Pengantar-Filsafat-Filsafat-Dan-Ilmu. diakses pada 13
Oktober 2012.
Anonim.
2012. [online] available at http://www.scribd.com/doc/98145018/Filsafat-Alam-Untuk-Pemula-Final. diakses pada 13
Oktober 2012.
Wikipedia.
2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat. diakses pada
13 Oktober 2012
Wikipedia.
2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_bahasa. diakses pada 14
Oktober 2012
Wikipedia.
2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte. diakses pada 13
Oktober 2012.
Wikipedia.
2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Copernicus#Menelurkan_teori_yang_revolusioner.diakses pada 14
Oktober 2012.