Sabtu, 20 Oktober 2012

REFLEKSI 2



Refleksi 2
(Senin, 8 Oktober 2012)

ALIRAN FILSAFAT, TOKOH, DAN IDENYA

Abstrak
Segala sesuatu yang ada di bumi ini pasti memiliki sejarah. Sejarah tersebut mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, tak terkecuali dengan filsafat. Filsafat adalah ilmu tentang olah pikir. Dalam perkembangannya filsafat mengalami pasang surut. Perkembangan filsafat dimulai pada masa Yunani Kuno. Pada masa ini mulai bemunculan para pemikir-pemikir yang nantinya disebut sebagai para filsuf, seperti Thales, Parmenides, Plato, Socrates, Heraclitus, dan Aristoteles. Pada masa ini muncul berbagai aliran filsafat, seperti aliran filsafat tetap oleh Parmenides, aliran idealism oleh Plato, aliran dialectic oleh Socrates, aliran berubah oleh Heraclitus, dan aliran realism oleh Aristoteles.
Pada masa berikutnya adalah Masehi. Pada awal Masehi, perkembangan filsafat menurun. Hal ini disebabkan oleh kebangkitan para gerejawan yang membatasi perkembangan filsafat. Berikutnya adalah masa kegelapan, terjadi pada 12 M – 13 M. Disebut masa kegelapan karena filsafat mengalami kemunduran, bahkan dapat dikatakan filsafat itu mati suri. Semua yang tidak tunduk terhadap eraturan dan keyakinan gereja akam dihukum. Galeleo Galelei dan Bruno menjadi korban pada masa ini, karena mereka menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya, hal ini bertentangan dengan keyakinan gereja saai itu, yaitu bumi sebagai pusat tata surya.
Perkembangan filsafat selanjutnya adalah pada masa pengerahan, terjadi pada abad 15 M. Pada abad ini filsafat mulai mengalami kemajuan. Munculnya Copernicus yang dapat membuktikan teori heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) membuat filsafat mulai diperhitungkan lagi. Ilmu filsafat mengalami perkembangan dan memasuki masa awal zaman modern, yaitu pada abad 16 M. Pada masa ini, golongan Kristen sebagai penguasa mulai mengalami kehancuran dan munculah kembali filsafat dengan aliran-aliran baru. Pada zaman ini, muncul aliran rasionalisme oleh Rene Descartes. Ia beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio dan muncul pula aliran empirisme oleh David Hume yang beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah inderawi atau pengalaman.
Aliran rasionalisme dan empirisme merupakan dua aliran yang berbeda, sehingga muncul pertentangan diantara kedua aliran tersebut. Munculah Immanuel Kant dengan teore kritisme yang memadukan dua aliran yang bertentangan tesebut. Ini terjadi di abab 17 M – 18 M. Pada abad ini muncul pula Auguste Compte yang mengembangkan ilmu dan metode ilmiah untuk semua bidang. Perkembangan filsafat tidak berhenti sampai di sini, perkembangan filsafat justru semakin pesat. Filsafat memasuki zaman pos modern, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai aliran filsafat, seperti pragmatism (pragmatism adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis), utilitarian (segala sesuatu ditinjau dari segi kebermanfaatan), capitalis, dan hedonism (kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmatan, kesenangan). Selanjutnya filsafat terus berkembang sampai saat ini, yang memasuki zaman pos pos modern. Filsafat saat ini berjalan seiring dengan perkembangan kehidupan. Filsafat bersifat kontekstual. Ada pula aliran filsafat bahasa. Filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat.  Filsafat telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Filsafat sudah dapat diterima dan dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sudah dibuka sekolah-sekolah filsafat, filsafat juga dijadikan sebagai salah satu mata kuliah.

Keywords: Yunani Kuno, Masehi, Zaman kegelapan, Zaman pengerahan, awal zaman modern, zaman modern, zaman pos modern, zaman pos pos modern.
A.    Pendahuluan
Sebelum mempelajari suatu hal, maka hal pertama yang harus diketahui adalah pengertiannya. Pengertian tersebut dapat kita peroleh dari sejarah ataupun perkembangannya dari masa ke masa. Dalam hal ini kita akan mempelajari tentang perkembangan filsafat. Filsafat mengalami perkembangan dan pasang surut. Perkembangan filsafat dimulai dari zaman Yunani Kuno hingga saat ini. Sebelum membahas tentang perkembangan filsafat, kita akan bahas dahulu pengertian filsafat.
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Kata ini merupakan gabungan dari kata kata philia yang berarti persahabatan, cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Sehingga fisafat dapat diartikan sebagai “pencinta kebijaksanaan”Meski istilah philosophia (Φιλοσοφία) pertama kali dimunculkan oleh Pythagoras, namun orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales (640-546 S.M.) dari Mileta. Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani.  Sejak zaman itu filsafat terus mengalami perkembangan. Perkembangan filsafat dapat digolongankan menjadi beberpaa periode. Berikut ini akan dibahas tentang periode perkembangan filsafat, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang terkenal pada periode itu.

B.     Pembahasan
Perkembangan filsafat dapat dibagi dalam beberapa periode, berikut ini akan dibahas periode tersebut beserta tokoh-tokoh yang terkenal pada periode itu.
1.      Yunani Kuno
Yunani Kuno merupakan awal masa perkembangan filsafat. Pada masa ini ahli filsafatnya adalah Thales, Anaximandros, dan Anaximenes yang dianggap sebagai bapak-bapak fisafat dari Mileta. Mereka sudah mulai mempermasalahkan yang dianggap sebagai asal mula segala/unsur induk (arché ) seperti yang dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM) bahwa sumber kehidupan adalah air. Makhluk yang pertama kali hidup adalah ikan dan manusia yang pertama kali terlahir dari perut ikan. sedangkan Anaximander (sekitar 610  -540 SM) berpendapat arché adalah sesuatu “yang tak terbatas”, Anaximenes (sekitar 585 – 525 SM berpendapat “udara” yang merupakan unsur induk dari segala sesuatu.
Setelah mereka bertiga, kemudian muncullah pemikir lain yang lebih berpengaruh lagi terhadap perkembangan fisafat, seperti Parmenides, Plato, Socarates, Heraclitos, dan Aristoteles.
a.       Parmenides
Dalam menjawab tentang asal mula segala sesuatu, ia menyatakan bahwa segala sesuatu itu sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah). Dia mengatakan bahwa kebenaran itu ada yaitu kebenaran yang bulat dan penuh, yang dimaksud di sini adalah Tuhan,caranya dengan menggunakan akal atau logika. Selain itu, dia juga menganut faham monotheisme (Yang ada itu satu dan tetap, yang banyak tidak ada).
Menurut Parmenides, dunia yang nyata ini sebenarnya tidak pernah berubah. Perubahan yang terjadi di alam ini, seperti tumbuhdan layunya pohon, pergantian musim atau kematian adalah ilusi indera-indera kita. Bagi Parmenides kita harus mengikuti ‘jalan kebenaran’(aletheia) yang didapat melalui akal bukan panca indera.
Dalam The Way of truth, Parmadines bertanya: Apa standar kebenaran dan apa ukur realitas? Bagaimana hal itu dapat dipahami? Lalu ia menjawab: Ukurannya ialah logika yang konsisten. Oleh karena itu Parmenides disebut sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat.
b.      Heraclitus
Heraclitus hidup pada sekitar th 500an SM. Dia mengagetkan manusia awam ketika ia berkata bahwa sesungguhnya yang sungguh-sungguh itu ada ,yang hakikat, ialah gerak dan perubahan dan paham relatifisme semakin mempunyai dasar setelah Heraclitus menyatakan engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai iu selalu mengalir.
Menurut heraclitus alam semesta ini dalam keadaan berubah, sehingga kebenaran itu selalu berubah, tidak tetap. Heraclitus mengemukakan bahwa segala sesuatu itu “mengalir” (“panta rhei”) dan berubah terus-menerus.
c.       Socrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relative telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, menggoncangkan keyakinan agam. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacaun kehidupan.Socrates bangkit dan meyakinkan orang-orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relative, ada kebenaran yang umum yang dapat di pegang oleh semua orang. Kehidupan Socrates ( 470 – 399 SM ) berada di tengah –tengah keruntuhan imperium Athena. Socrates menggunakan metode yang bersifat praktis, yaitu melalui percakapan-percakapan dan menganalisis pendapat-pendapat tentang salah dan tidak salah,adil dan tidak adil,berani dan pengecut ,dll.
Metode yang digunakan Socrstes disebut Dialektika, dari kata kerja Yunani ”dialegethai” (bercakap-cakap/dialog). Ada dua penemuan Socrates yang berkenaan dengan pengetahuan, yaitu induksi dan definisi. Induksi yaitu pemikiran yang bermula dari pengetahuan khusus, lalu menyimpulkan yang umum sedangkan definisi yaitu mengupayakan sifat umum kemudian menyisihkan ciri khusus. Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya,tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang-orang sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi.
d.      Plato
Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya. Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika.
Plato adalah salah satu dari filsuf besar Yunani yang hidup sekitar abad ke-4 SM. Plato mentransformaiskan pemikirannya ke wilayah religius dengan gagasannya tentang ide dan cinta atau eros sebagai pendorong gerak untuk mencari hakikat dari kehidupan.
e.       Aristoteles
Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain.
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji, dan keabsahan cara berfikir sedangkan dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk menyusun pernyataan yang berlaku universal. Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna.
Masa Yunani kuno dapat diibaratkan dengan gunung-gunung. Maksudnya adalah masa bermunculan para pemikir-pemikir dan aliran filsafat.
2.      Masehi
Mulai abad permulaan masehi, perkembangan filsafat beralih ke Eropa. Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma yang luas sekali. Pemikiran filsafat di Eropa diwarnai dengan unsur-unsur baru (Agama katholik) yang mendominasi pemikiran filsafat pada masa itu.
Masa ini merupakan masa gerejawan membatasi berfilsafat, karena berfilsafat sangat membahayakan bagi agama Kristen khususnya pihak gerejawan. Dan yang ditonjolkan dalam masa ini adalah hubungan antara agama dengan filsafat karena keduanya tidak dapat dipisahkan, dan dengan keduanya manusia akan memperoleh pengetahuan yang lebih jelas.
Pada masa ini terjadi pertentangan antara gereja yang diwakili oleh para pastur dan para raja yang pro kepada gereja, dengan para ulama filsafat. Sehingga pada masa ini filsafat mengalami kemunduran. Para raja membatasi kebebasan berfikir sehingga filsafat seolah-olah telah mati suri. Ilmu menjadi beku, kebenaran hanya menjadi otoritas gereja, gereja dan para raja yang berhak mengatakan dan menjadi sumber kebenaran.
3.      Jaman Kegelapan (Abad 12 M – 13 M)
Filsafat yunani telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban yunani
dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia. Filsafat yunani telah
menyebar dan mempengaruhi berbagai bangsa dianataranya adalah bangsa Romawi,
karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu, sehingga munculah filsafat Eropa yang merupakan penjelmaan dari filsafat Yunani.
Filsafat pada masa ini dapat dikatakan abad kegelapan, karena
pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan
terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin
gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang
bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad
dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati. Pada zaman ini keyakinan Gereja mempercayai bumi sebagai pusat tata surya, sehingga saat Galileo mengemukakan teori Heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat tata surya yang bertentangan dengan keyakinan gereja, maka Galileo mendapat hukuman diasingkan hingga ia meninggal. Bruno seorang pendeta yang mendukung Copernicus juga dihukum mati.
4.      Abad 15M (Zaman Pengerahan)
Adanya temuan Copernicus tentang teori Heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat tata Surya mengakibatkan runtuhnya teori Geosentris. Dengan adanya teori ini, maka keberadaan filsafat mulai mengalami pencerahan. Dapat dikatakan bahwa filsafat dalam masa ini ibarat sungai-sungai. Walaupun airnya tak deras, namun sangat bermanfaat.
5.      Abad 16 M (Jaman modern)
Pada masa ini Kristen yang berkuasa dan menjadi sumber otoritas kebenaran mengalami kehancuran. Berbagai pemikiran Yunani muncul, alur pemikiran yang mereka anut adalah rasionalitas, dan empirisrme. Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada dua aliran berbeda yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.  
a.       Aliran rasionalisme oleh Rene Descartes. Ia beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, kebenaran pasti berasal dari rasio (akal).
b.      Aliran empirisme oleh David Hume. Ia meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi.
Perkembangan filsafat pada zaman ini dapat diibaratkan dengan sungai-sungai. Sungai tersebut terus mengalir menuju laut yang artinya terus berkembang menuju kejayaan.
6.      Abad 17-18 M
Aliran rasionalisme dan empirisme adalah dua aliran yang saling bertolak belakang. Untuk menanggulangi perselisihan diantara pengikut aliran tersebut, hadirlah Immanuel Kant. Ia berusaha mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan Kritisisme (aliran yang kritis). Aliran Kritisme Immanuel Kant merupakan gabungan dari dua pendekatan yang bertentangan tersebut. Perkembangan filsafat pada zaman Immanuel Kant dapat diibaratkan dengan muara sungai, karena sudah mengalami sedikit pencerahan menuju kejayaan.
Para murid Kant tidak puas terhadap batas kemampuan akal, alasannya karena akal murni tidak akan dapat mengenal hal yang berada di luar pengalaman. Untuk itu dicari suatu sistem metafisika yang ditemukan lewat dasar tindakan. Aliran ini mulanya dikembangkan oleh Auguste  Comte, yaitu aliran positivism yang menepatkan akal (rasio) pada tempat yang sangat penting. Menurut positivisme pengetahuan tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta. Meskipun positivisme mengandalkan pengalaman dalam mendapatkan pengetahuan, namun mereka membatasi diri pada pengalaman objektif saja.
Menurut Comte pengembangan pengetahuan manusia baik perseorangan maupun umat manusia secara keseluruhan, melalui tiga zaman . Ketiga zaman  itu adalah Zaman Teologis, Zaman Metafisika dan zaman Ilmiah atau Positif.
a.       Zaman Teologis
Pada zaman teologis, manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa - kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala - gejala tersebut. Kuasa - kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari pada makhluk – makhluk insan biasa.
Zaman teologis dibagi lagi menjadi tiga periode berikut :
                                                  i.      Animisme.
Tahap Animisme merupakan tahap paling primitif karena benda-benda dianggap mempunyai jiwa.
                                                ii.      Politeisme.
Tahap Politeisme merupakan perkembangan dari tahap pertama. Pada tahap ini manusia percaya pada dewa.
                                              iii.      Monoteisme.
Tahap Monoteisme ini lebih tinggi dari pada dua tahap sebelumnya, karena pada tahap ini, manusia hanya memandang satu Tuhan sebagai Penguasa.


b.      Zaman Metafisis
Pada zaman ini kekuatan yang tadinya bersifat adi kodrati,diganti dengan kekuatan-kekuatan yang mempunyai pengertian abstrak, yang diintegrasikan dengan alam.
c.       Zaman Positif
Zaman ini dianggap Comte sebagai zaman tertinggi dari kehidupan manusia. Alasanya ialah  pada zaman ini tidak ada lagi usaha manusia untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. Pada zaman inilah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Perkembangan filsafat pada jaman ini dapat diibaratkan dengan pantai atatu bendungan, karena dari yang sebelumnya, fisafat pada zaman ini telah mengalami kemajuan. Seperti hal nya bendungan yang memiliki banyak manfaat, begitu juga filsafat pada zaman ini.

7.      Abad 18 M/19 M (Jaman Pos Modern)
Dalam masa ini perkembangan ilmu rekayasa genetika dan teknologi komputer dan informasi sangat pesat.
a.       Pragmatism
Kata pragmatisme berasal dari bahasa yunani yaitu “pragma” yang berarti tindakan atau perbuatan, “isme” yang  artinya aliran, ajaran atau paham. Jadi pragmatism adalah Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
b.      Utilitarian
Utilitarianisme mengajarkan tiap manusia untuk meraih kebahagiaan (kenikmatan) terbesar untuk orang terbanyak. Karena, kenikmatan adalah satu-satunya kebaikan intrinsik, dan penderitaan adalah satu-satunya kejahatan intrinsik. Pada masa ini dikenal juga asas Manfaat atau Kegunaan, yaitu asas yang menyuruh setiap orang untuk melakukan apa yang menghasilkan kebahagiaan atau kenikmatan terbesar yang diinginkan oleh semua orang untuk sebanyak mungkin. Pada sisi lain, para utilitarian menolak eksperimen-eksperimen scientific tertentu yang melibatkan binatang, karena kebahagiaan atau kenikmatan harus dipelihara untuk semua makhluk.
c.       Capitalis
d.      Hedonism
Hedonisme,menganjurkan manusia untuk mencapai kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmatan, kesenangan. Pelopor aliran ini adalah Cyrenaiccs ( 400 SM) yang menyatakan hidup yang baik adalah memperbanyak kenikmatan malalui kenikmatan indera dan intelak. Sebaliknya Epikurus ( 341 – 270 SM ) menyatakan bahwa kesenangan dankebagian adalah tujuan hidup manusia.
8.      Zaman Pos Pos Modern
Zaman pos pos modern atau zaman kontemporer dimulai pada abad ke 20 hingga sekarang. Filsafat Barat kontemporer memiliki sifat yang sangat heterogen. Sebagian besar filsuf adalah spesialis di bidang khusus, seperti matematika, fisika, sosiologi, dan ekonomi. Akan tetapi bidang fisika menempati kedudukan paling tinggi dan paling banyak dibicarakan oleh para filsuf.
Filsafat bahasa salah satu aliran filsafat yang berkembang pada masa pos pos modern. Filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik.
Perkembangan filsafat pada masa ini dapat diibaratkan dengan laut dalam. Filsafat telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ibarat laut dalam, maka airnya tenang, begitu juga dengan filsafat pada zaman ini. Filsafat sudah dapat diterima dan dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sudah dibuka sekolah-sekolah filsafat, filsafat juga dijadikan sebagai salah satu mata kuliah.
C.    Penutup
Kesimpulan
Ilmu filsafat yang kita kenal selama ini terus mengalamai perkembangan. Perkembangan filsafat dimulai saat zaman Yunani Kuno dengan tokoh yang terkenal adalah Parmenides dengan aliran tetap, Heraclitus dengan aliran berubah, Socrates dengan aliran dialectic, Plato dengan aliran idealisme, dan Aristoteles dengan aliran realisme. Perkembangan selanjutnya yaitu masa Masehi dan kegelapan, dimasa itu filsafat mengalami kemunduran karena terkekang oleh kaun gerejawi. Berikutnya perkembangan filsafat memasuki masa pengerahan (abad 15 M) yang ditandai dengan munculnya Copernicus dengan teori Heliosentris yang mematahkan keyakina kaum gerejawi.
Keberadaan ilmu filsafat mulai berkembang lagi. Kemudian memasuki awal zaman modern, yaitu abad 16 M, muncullah Rene Descartes dengan aliran realisme (kebenaran berasal dari akal) dan David Hume dengan aliran Empirisme (kebenaran berasal dari pengalaman). Kedua aliran ini saling bertentangan sehingga mendorong munculnya aliran baru yang memadukan kedua aliran tersebut, yaitu Kritisme oleh Immanuel Kant. Peristiwa ini merupakan memasukinya filsafat pada zaman modern (17M- 18M), lalu muncul pula Auguste Compte dengan metode ilmiah untuk berbagai bidang. Ia mencetuskan paham positivisme, yaitu paham yang menggunakan kebenaran harus dilandasi fakta-fakta. Memasuki zaman pos modern ditandai dengan munculnya aliran-aliran baru, seperti aliran pragmatism, utilitarian, capitalism, dan hedonism.Perkembangan filsafat yang berikutnya adalah masa pos pos modern, yaitu memasuki abak 20 hingga sekarang ini. Filsafat aat ini telah menyatu dan berjalan beriringan dengan kehidupan manusia.

D.    Daftar Pustaka
Anonim. 2012. [online] available at http://www.scribd.com/doc/50644767/Pengantar-Filsafat-Filsafat-Dan-Ilmu. diakses pada 13 Oktober 2012.

Anonim. 2012. [online] available at http://www.scribd.com/doc/98145018/Filsafat-Alam-Untuk-Pemula-Final. diakses pada 13 Oktober 2012.

Wikipedia. 2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat. diakses pada 13 Oktober 2012

Wikipedia. 2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_bahasa. diakses pada 14 Oktober 2012

Wikipedia. 2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte. diakses pada 13 Oktober 2012.

Wikipedia. 2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Copernicus#Menelurkan_teori_yang_revolusioner.diakses pada 14 Oktober 2012.











Minggu, 07 Oktober 2012

Refleksi I



Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika
(Senin, 1 Oktober 2012)

Sebelum mengikuti perkuliahan filsafat terlebih dahulu kita harus mengerti apa itu filsafat. Filsafat adalah olah pikir yang refleksif, sehingga perkuliahan filsafat juga refleksif, dengan cara mengungkapkan kembali isi perkuliahan dengan kalimat sendiri.
Pertanyaan pertama yang muncul ketika belajar filsafat adalah mengapa kita perlu mempelajari filsafat. Jawabannya adalah karena filsafat meniru terminologi dunia. Dunia dapat digunakan di depan kata apapun, begitu juga dengan filsafat, misalnya filsafat pendidikan, filsafat agama, dsb. Karena filsafat adalah olah pikir, maka kita dapat memikirkan apapun yang ada di dunia ini, walaupun terbatas. Filsafat merupakan ilmu yang multi muka, artinya ilmu yang bisa menjadi dua hal kebalikannya, misalnya bisa dekat tetapi juga bisa menjadi sangat jauh, bisa menghibur tetapi juga bisa berbahaya. Untuk mengantisipasinya maka diperlukan adab/tata cara.
Adab/tata cara berfilsafat terdiri dari beberapa hal, yaitu:
1.      Kedudukan filsafat dikaitkan dengan spiritual
Kedudukan filsafat tidak boleh melebihi kedudukan spiritual. Dasar berfilsafat adalah spiritual. Sebelum dan sesudah berfilsafat harus disertai dengan doa. Kesalahan dalam berfilsafat adalah mencoba berfilsafat tentang misteri Tuhan. Walaupun kedudukan filsafat itu tinggi, namun jangan pernah melebihi keyakinan/spiritual karena keyakinan itu tak terbatas, dikhawatirkan justru akan melemahkan keyakinan itu sendiri. Dalam memahami elegi, kita harus menggunakan pola pikir semampu kita atau tunggu momentum yang tepat.
Ada kisah tentang seorang matematikawan hebat yang tidak percaya akan adanya Tuhan karena ia tidak mengerti siapa Tuhan itu. Hal tersebut salah, karena untuk bisa bertemu Tuhan tidak hanya menggunakan pikiran, namun diperlukan juga hati dan keyakinan.
2.      Filsafat itu hidup
Ketika kita menanyakan cinta, kita tidak tau seberapa besar batasan cinta. Mengapa? karena cinta itu hidup dan akan terus hidup. Demikian juga dengan filsafat. Filsafat itu hidup, maka untuk memepelajarinya diperlukan metode yang hidup. yang akibatnya adalah muncul metode sehat dan metode tidak sehat, metode bahagia dan metode hidup susah. Demikian juga dengan filsafat, maka akan ada filsafat sehat, filsafat tidak sehat, filsafat bahagia, filsafat susah, dsb. Filsafat yang sehat adalah filsafat yang beradap, mengenal tata cara dan sopan santun.
3.      Menggunakan bahasa analog
Dalam berfilsafat, bahasa analog itu penting, misalkan kita menyebutkan “hati” yang dapat berarti spiritual, keyakinan, atau ketuhanan. Kita dapat juga menyebutkan kata “pikiran” yang berarti urusan manusia, urusan dunia, maupun urusan lain yang nampak.
4.      Obyek/yang dipelajari dalam filsafat
Obyek yang dipelajari dalam berfilsafat adalah obyek yang ada dan yang mungkin ada. Obyek yang ada adalah obyek yang sudah diketahui, sedangkan obyek yang mungkin ada adalah obyek yang belum diketahui. Obyek yang mungkin ada dapat dicari di dalam lingkungan sekitar dengan cara melihat, meraba, dan memikirkannya.
5.      Berfilsafat perlu membersihkan diri (berpikir jernih)
Berfilsafat harus dalam kondisi sehat. Dalam berbagai hal, jika dalam kondisi sakit pasti akan mempengaruhi hasil kerja. Jika kita membahas tentang sehat, maka akan berkaitan juga dengan metode hidup. Metode hidup disebut terjemah dan diterjemahkan. Dalam bahasa Yunani disebut Hermenitika, artinya berinteraksi yang refleksif. Setiap hal di dunia ini slaing berinteraksi satu sama lain. Tumbuhan berinteraksi dengan lingkungan, batu berinteraksi dengan udara. Salah satu cara berinteraksi dalam berfilsafat adalah dengan membaca elegi.
Hidup sehat dalam berfilsafat adalah hidup yang harmoni atau seimbang antara unsur-unsurnya. Harmoni itu sendiri identik dengan kebahagiaan. Sumbu dalam kehidupan adalah dengan berikhtiar/usaha. Agar seimbang, maka ikhtiar di dunia harus diimbangi dengan akhirat.
6.      Menerima filsafat/berfilsafat itu tidak hanya diam
Metode hiduplah yang menghidupkan filsafat. Sebenar-benar berfilsafat adalah berinteraksi refleksif yang mengandung berpikir refleksif. Membaca elegi dan membuat komen merupakan salah satu cara mendudukkan diri dalam berfilsafat. Namun selain itu diperlukan juga pengetahuan lain, seperti sejarah perkembangan filsafat.
7.      Filsafat dimulai dengan pertanyaan
Pertanyaan itu muncul dari kekaguman tentang hal-hal kecil
8.      Sopan santun terhadap ruang dan waktu
Salah satu contohnya adalah dengan menyadari bahwa di samping kita ada orang yang jika kita melakukan hal tertentu maka akan merugikan secara materiil.
Sesi tanya jawab:
1.      Pertanyaan Siti Subekti:
Mengapa kupu-kupu yang indah berasal dari ulat yang menyeramkan?
jawaban: hal tersebut merupakan hukum alam. Kita harus mensyukurinya
2.      Pertanyaan Nensi:
Bagaimana tumbuhan mempertahankan habitatnya?
jawaban: hal tersebut menggunakan hukum alam. Hukum itu berdimensi dari hukum materialnya samapai hukum spiritualnya.
3.      Peertanyaan Yunia:
Apa guna filsafat dalam pendidikan matematika?
jawaban: Sama seperti pentingnya berpikir dalam matematika.
4.      Pertanyaan Yulia:
Apa yang dilakukan semut saat bertemu semut lain? Mengapa berhenti sesaat saat bertemu?
jawaban: Bisa karena berbagai hal, dan hal tersebut masih perlu diselidiki
5.      Pertanyaan Eko:
Bagaimana memahami apa yang ada di luar kita padahal memahami diri sendiri sangat susah?
jawaban: Jika filsafat tentang diri kita, tinggal bagaimana menjelaskannya kepada orang lain.
6.      Pertanyaan Siti Zainab:
Apa kaitannya belajar filsafat dengan belajar matematika?
jawaban: Sama-sama berpikir
7.      Pertanyaan Felisitas:
Apa hakekat rumput yang bergoyang?
jawaban: Bisa berbagai macam. Bisa saja rumput itu merasa senang ketika kita senang, atau rumput tersbeut medoakan langkah kita, tapi suatu saat bisa saja rumput tersebut sedih dengan perilaku kita.
8.      Pertanyaan Fitria:
Apa hakekat roda yang berputar?
jawaban: Bergerak, berusaha menunjukkan perubahan. Dalam perubahan tersebut ada yang bergerak dan ada yang tetap, misalnya pusat tetap sebagi pusat dan jari jari tetap sebagai jari-jari.
9.      Pertanyaan Ermitasari:
Mengapa orang sapat membentuk pola pikir bahwa dirinyalah yang paling benar?
jawaban: Karena filsafat tidak jauh dari diri sendiri. Pikiran yang paling benar bersifat kontekstual, tergantung kapan dan di mananya.
10.  Pertanyaan Arlian Bety:
Apa hakekat kehilangan?
jawaban: Kehilangan kuasa terhadap obyek yang dimaksud, atau tak kuasa lagi menggunakannya.
11.  Pertanyaan Dewi Cepsi:
Mengapa menyampaikan amtematika yang mudah menjadi sulit?
jawaban: Seharusnya kita tidak menyampaikan, namun berusaha membangun sendiri pengetahuan tersebut.
12.  Pertanyaan Dwi Kartika:
Apa pentingnya berfilsafat?
jawaban: sama pentingnya dengan berpikir.
13.  Pertanyaan Rina:
Apakah filsafat mempengaruhi keyakinan?
jawaban: Seharusnya keyakinanlah yang mempengaruhi berfilsafat.
14.  Pertanyaan Ridha:
Apakah elegi itu?
jawaban: Apa arti elegi itu dapat dicari di blog.
15.  Pertanyaan Rusda
Apakah hubungan daun yang bergoyang dengan matematika?
jawaban: serendah-rendahnya berfilsafat adalah sama-sama dipikirkan
16.  Pertanyaan Kristina
Apakah hubungan filsafat dengan tanah?
jawaban: Adanya filsafat dan filsafat tanah. Hal tersebut sama-sama dipikirkan.
17.  Pertanyaan Tri wahyuni:
Apakah hakekat mahasiswa jurusan pendidikan matematika?
jawaban: Pertanda ia hidup agar matematika tidak terbang di atas awan. Matematika berkaitan dengan anak kecil, padahal anak kecil tidak dapat terbang, maksudnya anak kecil perlu bimbingan
18.  Pertanyaan Anniltal:
Bagaimana perasaan seekor kucing yang hamil tetapi tak bisa makan. Berapa lama ia dapat bertahan?
jawaban: hal tersebut merupakan sifat dari suatu objek
19.  Pertanyaan Cony:
Apa cinta itu terbatas?
jawaban: cinta dapat terbatas dan tidak terbatas. Mencintai dapat juga bermakna kasih saying. Cinta dapat juga dibatasi ruang dan waktu.
20.  Pertanyaan Aries:
Kekaguman terhadap orang tua termasuk adab yang bagaimana? Apa yang dimaksud dengan kagum?
jawaban: Kagum tanpa memikirkannya adlaah mitos. Berfilsafat mencari logis (ilmu).
21.  Pertanyaan Naafi:
Mengapa perdamaian dunia itu susah untuk diwujudkan?

Pertanyaan: Apakah hakekat menyesal?