Minggu, 18 November 2012

Refleksi 4



Belajar Menembus Ruang dan Waktu

Berfilsafat adalah proses olah pikir, dapat berarti olah pikir sendiri, olah pikir bersama,  olah pikir bangsa, atau olah pikir dunia. Apapun olah pikirnya, berfilsafat harus menggunakan referensi, yaitu pikiran para filsuf. Berbagai penamaan aliran filsafat dapat dilihat dari obyeknya. Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Obyek itu sendiri dapat dipersempit menjadi:
1.      Obyeknya adalah alam
Orang-orang Yunani berpikir segala sesuatu yang ada di alam berasal dari apa, sehingga disebut filsafat alam.
2.      Obyeknya adalah manusia: jika obyeknya adalah manusia maka filsafatnya adalah filsafat manusia.
3.      Obyeknya adalah spiritual: jika obyeknya adalah spiritual maka filsafatnya adalah filsafat teologi
Dilihat dari letak/lokasi obyeknya, maka dapat dibagi menjadi obyek di dalam dan obyek di luar. Obyek di dalam bersifat tetap, hal ini sejalan dengan pikiran Plato dan menghasilkan filsafat idealisme sedangkan obyek di luar bersifat berubah, sejalan dengan pikiran Aristoteles dan menghasilkan filsafat realisme.
Jika dilihat dari banyaknya obyek, maka ada 3 aliran filsafat, yaitu monoisme, dualisme, dna pluralisme. Jika obyeknya satu maka filsafatnya adalah monoisme. Monoisme bearti yang benar satu, yaitu kausa prima (Tuhan). Dualisme adalah jika yang benar adalah dua, sedangkan jika yang benar banyak maka filsafatnya adalah pluralisme.
Jika kita berbicara tentang filsafat yang berkaitan dnegan olah pikir, maka kita tidak akan terlepas dari membicarakan manusia. Manusia itu tidak sempurna dan terbatas. Ketidaksempurnaan itu dapat digunakan untuk membedakan antara unsur satu dengan unsur yang lain. Manusia dapat menembus ruang dan waktu atau disebut juga mengalami perubahan. Menembus ruang dan waktu dapat dilakukan intensif, ekstensif, merujuk pikiran para fisuf, dan mengorespondensi dengan pengalaman.
Subyek yang menembus ruang dan waktu itu mengalami dimensi wantu dan dimensi ruang. Menurut Immanuel Kant, dimensi waktu itu berurutan, berkelanjutan, dan berkesatuan. Sedangkan dimensi ruang dapat terdiri dari dimensi nol, dimensi dua, dimensi tiga, dst. Jika dikembangkan dengan bahasa analog, maka dimensi ruang adalah pikiran. Ruang terdiri dari wadah dan isi. Jika kita membicarakan ruang, maka kita tidak dapat terlepas dari komponen ruang. Komponen ruang terdiri dari:
1.      Material: adalah bentuk fisik, konkrit
2.      Formatif: adalah yang dtulis secara resmi.
3.      Normatif: adalah ilmu, aturan, tata krama.
4.      Spiritual
Sedangkan ruang kaum kapitalis terdiri dari:
archaic à tribal à tradisional à fodal à modern à pos modern à pos pos modern
Orang yang berilmu dalam pendidikan matematika adalah orang yang sopan terhadap apa yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika dengan cara mengerti, menerapkan, dan mereflekikan. Sopan berarti berhadapan dengan sistem yang meletakkan unsur spiritual pada posisi yang paling atas. Namun di sisi lain, kita mengalami gejolak globalisasi yaitu berhadapan dengan negara power nowdengan 4 ujung tombak, yaitu kapitalis, utilitarism, pragmatism, dan hedonism. Kapitalis adalah aliran yang memandang segala sesuatu diukur dari laju ekonomi. Utilitarism adalah aliran yang memandang segala sesuatu dari manfaatnya. Pragmatism adalah aliran yang menghasilkan budaya serba cepat. Sedangkan hedonism adalah aliran yang mengejar rasa senang, sehingga terkadang lupa dengan norma agama. Walaupun kita mengalami gejolak dengan negara power now, namun kita tidak dapat terlepas dari negara terebut. Negara power now meletakkan agama di bagaian tradisional.
Kemudian pertanyaan yang timbul adalah siapakah yang dapat menembus ruang dan waktu? Yang menembus ruang dan waktu itu tergantung dari sudut pandang material, formal, normatif dan spiritual. Dimensi menembus waktu setiap orang itu berbeda-beda. Beberapa bekal yang perlu diperhatikan ketika kita membicarakan ruang dan waktu adalah:
1.      fenomenologi
Fenomenologi terdiri dari abstraksi dan idealisasi.
a.         Abstraksi yaitu memilih atau mereduksi.
Kodrat manusia adalah memilih dan terpilih. Manusia dapat dipandang sebagai makhluk sempurna namun juga dapat dipandang sebagai makhluk terbatas.
Husserl menciptakan rumah epocheuntuk menyimpan segala sesuatu yang tidak dibutuhkan.
b.         Idealisasi menganggap sempurna apa yang ada. Idealisasi berada dalam pikiran.
2.      fondasionalism-antifondasionalism.
Semua makhluk beragama adalah kaum fondasionalism karena meletakkan Tuhan sebagai kausa prima, yaitu sebab ang utama dan pertama. Fondamen adalah permulaan. Contoh fondamen dalam pernikahan adalah ijab qobul. Hakekat manusia adalah fondasionalism karena kegiatan manusia dapat ditelusuri kapan permulaannya.Namun dalam kenyataannya ada beberapa hal yang tidak dapat kita definisikan, misalnya menentukan kapan dimulainya pagi. Hal ini yang nantinya memunculkan antifondasionalism. Contoh antifondasionalism adalah pertanyaan kapan kita dapat membedakan besar dan kecil, jauh dekat, dsb.
Pertanyaan lainnya adalah apakah yang dimaksud dengan bilangan 2? Kita tidak dapat mendefinisikan bilangan 2.  Hal inilah yang memunculkan persoalan dalam matematika karena kita mencoba mendefinisikan bilangan 2, padahal bilangan 2 adalah intusi. Persoalan matematika bukan berasal dari yang muda tetapi dari orang-orang dewasa yang telah mengenal matematika. Anak-anak tidak memerlukan definisi bilangan 2, yang mereka butuhkan adalah contoh hal yang konkrit yang dapat ia pegang, lihat, dan rasakan. Matematika menjadi sulit karena kebanyakan guru menekankan definisi, padahal banyak unsur matematika yang berasal dari intusi.
Berbicara tentang guru, maka guru dapat dikatakan intuisionism maupun fondasionalism. Seorang guru dikatakan intuisionism karena mengajar matematika dengan metode intuisi. Seorang guru dikatakan fondasionalism karena kegiatan pembelajarannya diawali dengan berdoa. Dari perkembangan filsafat sampai zaman Auguste Compte menciptakan ilmu bidang, kita memiliki banyak ruang. Akibatnya munculah istilah-istilah baru, misalnya bahasa sandi. Istilah-istilah tersebut biasabya diproduksi oleh orang yang memiliki otoritas, karena ia akan diperhatikan dan diikuti banyak orang.

Pertanyaan:
Apakah ada batasan sejauh mana kita dapat menembus ruang dan waktu?

Minggu, 04 November 2012

Refleksi 3



Mengenal Aliran Filsafat
Penamaan aliran filsafat itu dapat dipandang dari berbagai jenis. Berikut ini akan dijabarkan tentang penamaan aliran-aliran filsafat.
1.      Aliran filsafat berdasarkan obyeknya
Misalnya obyeknya adalah benda-benda alam, maka filsafatnya adalah filsafat alam. 
2.      Aliran filsafat berdasarkan tokohnya
Misalnya aliran filsafat Hegelianism, berasal dari tokohnya yaitu G. W. F Hegel yang menyatakan bahwa segala yang ada dan yang mungkin ada itu menyejarah.
3.      Aliran filsafat berdasarkan sifatnya.
Misalnya benda dalam pikir itu sifatnya ideal, maka filsafatnya adalah idealism. Ideal itu bersifat tetap, aliran ini sesuai dengan Permenidesialism. Contoh yang tetap adalah bilangan. Bilangan itu adalah tetap, tidak berubah karena ada di dalam pikiran. Jika ia ada di luar pikiran maka bersifat plural, misalnya bilangan 5, ada 5 besar, 5 kecil, 5 tebal, 5 tipis, dan sebagainya.
4.      Aliran filsafat berdasarkan aktivitasya
Misalnya filsafat yang didasarkan pada aktivitas Socrates, yaitu bertanya, maka filsafatnya adalah dialektisism.
5.      Aliran-aliran filsafat lainnya dapat dilihat dari jumlahnya
Misalnya aliran filsafat monoism, dualism, dan pluralism. Jika yang benar satu maka filsafatnya adalah Monoisme. Yang benar adalah satu itu dapat diibaratkan dengan Tuhan, karena Tuhanlah yang Maha benar. Namun jika yang benar itu dua, maka filsafatnya adalah dualism. Yang benar itu adalah dua dapat diibaratkan dengan benar-salah, baik-buruk, dan sebagainya. Jika yang benar banyak, maka dapat diibaratkan dengan urusan dunia, maka filsafatnya adalah pluralism. Contoh pluralism adalah masyarakat Jepang yang memiliki banyak Tuhan (Dewa).
6.      Aliran-aliran filsafat dapat juga didasarkan pada cara pandangnya
Misalnya aliran filsafat subyektifism dan obyektifism. Subyektifism adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa diriku yang benar, sedangkan obyektifism adalah jika memandang orang lainlah yang benar.
Pada dasarnya manusia hidup di dunia ini tidak lepas dari kegiatan menentukan (determine), maka filsafatnya disebut determinism. Dalam kenyataannya, yang mempunyai wewenang untuk menentukan adalah penguasa. Dalam flsafat dikenal juga aliran otoritarism, yaitu jika yang benar adalah yang berkuasa. Kegiatan determine sejalan dengan reduksi (memilih). Determine dan reduksi merupakan metode yang ampuh namun dapat juga merugikan, misalnya kita memilih untuk melakukan kegiatan A, maka kegiatan ini sekaligus menghilangkan kesempatan untuk melakukan kegiatan yang lain secara bersamaan.
Filsafat itu sifatnya kompleks, sehingga tidak dapat dipelajari secara instan. Karena filsafat itu hidup, maka diperlukan metode hidup untuk mempelajarinya, yaitu dengan bergaul, berinteraksi, membaca secara terus menerus. Dengan metode hidup ini, kita dapat mempelajari filsafat lebih dalam. Karena sesungguhnya filsafat itu tidak untuk dihapalkan tetapi untuk dipahami dan didalami. Misalnya filsafatnya para dewa adalah transendenism. Filsafat ini tidak untuj dihapalkan tetapi dipahami mengapa dinamakan transendenism. Dewa adalah kata yang tak asing bagi kita. Dalam filsafat kita dapat menyebut Dewa sebagai obyek yang tingkatnya lebih tinggi dari obyek yang lain. Misalnya kita adalah dewa bagi adik kita, guru adalah dewa bagi para muridnya karena guru memiliki pengaruh pada muridnya, begitu juga yang terjadi dalam hubungan kakak-adik.
Salah satu keunikan filsafat adalah apa yang diucapkan belum tentu benar saat dituliskan, karena yang diucapkan itu bersifat terbatas. Yang diucapkan pertama kali dan yang diucapkan yang kedua itu berbeda, walaupun jika dituliskan menjadi dua hal yang sama. Itulah yang disebut hukum kontradiksi. Walaupun demikian, kita tidak perlu risau dalam mempelajari filsafat, karena yang diperlukan adalah keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Sesi pertanyaan:
1.      Pertanyaan Eko
Apakah tidak sebaiknya jika kita menggunakan istilah lain selain Dewa? Karena Dewa identik dengan Tuhan yang ada di Jepang.
Jawaban:
Istilah Dewa adalah yang paling mewakili hal tersebut. Itulah bahaya filsafat jika mempelajarinya tidak secara utuh. Filsafat harus digunakan sesuai tempat dan waktunya, misalnya saat kita mengatakan bahwa kita adalah dewa bagi adik kita. Hal ini sebaiknya jangan diberikan secara mentah, karena adik kita belum saatnya untuk memikirkan hal tersebut, yang ditakutkan nantinya adalah timbul kesalahpahaman dari kata Dewa itu sendiri.
2.      Pertanyaan Ermitasari
Apakah mungkin terjadi pertikaian diantara para Dewa?
Jawaban:
Mungkin saja hal itu terjadi. Dewa itu juga seperti manusia, mereka bisa bertengkar. Misalnya para penguasa negara yang saling bertikai, atau seperti yang terjadi di Kamboja saat komunis berkuasa di sana.

Pertanyaan:
Apakah hakekat sebuah kemenangan?


Sabtu, 20 Oktober 2012

REFLEKSI 2



Refleksi 2
(Senin, 8 Oktober 2012)

ALIRAN FILSAFAT, TOKOH, DAN IDENYA

Abstrak
Segala sesuatu yang ada di bumi ini pasti memiliki sejarah. Sejarah tersebut mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, tak terkecuali dengan filsafat. Filsafat adalah ilmu tentang olah pikir. Dalam perkembangannya filsafat mengalami pasang surut. Perkembangan filsafat dimulai pada masa Yunani Kuno. Pada masa ini mulai bemunculan para pemikir-pemikir yang nantinya disebut sebagai para filsuf, seperti Thales, Parmenides, Plato, Socrates, Heraclitus, dan Aristoteles. Pada masa ini muncul berbagai aliran filsafat, seperti aliran filsafat tetap oleh Parmenides, aliran idealism oleh Plato, aliran dialectic oleh Socrates, aliran berubah oleh Heraclitus, dan aliran realism oleh Aristoteles.
Pada masa berikutnya adalah Masehi. Pada awal Masehi, perkembangan filsafat menurun. Hal ini disebabkan oleh kebangkitan para gerejawan yang membatasi perkembangan filsafat. Berikutnya adalah masa kegelapan, terjadi pada 12 M – 13 M. Disebut masa kegelapan karena filsafat mengalami kemunduran, bahkan dapat dikatakan filsafat itu mati suri. Semua yang tidak tunduk terhadap eraturan dan keyakinan gereja akam dihukum. Galeleo Galelei dan Bruno menjadi korban pada masa ini, karena mereka menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya, hal ini bertentangan dengan keyakinan gereja saai itu, yaitu bumi sebagai pusat tata surya.
Perkembangan filsafat selanjutnya adalah pada masa pengerahan, terjadi pada abad 15 M. Pada abad ini filsafat mulai mengalami kemajuan. Munculnya Copernicus yang dapat membuktikan teori heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) membuat filsafat mulai diperhitungkan lagi. Ilmu filsafat mengalami perkembangan dan memasuki masa awal zaman modern, yaitu pada abad 16 M. Pada masa ini, golongan Kristen sebagai penguasa mulai mengalami kehancuran dan munculah kembali filsafat dengan aliran-aliran baru. Pada zaman ini, muncul aliran rasionalisme oleh Rene Descartes. Ia beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio dan muncul pula aliran empirisme oleh David Hume yang beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah inderawi atau pengalaman.
Aliran rasionalisme dan empirisme merupakan dua aliran yang berbeda, sehingga muncul pertentangan diantara kedua aliran tersebut. Munculah Immanuel Kant dengan teore kritisme yang memadukan dua aliran yang bertentangan tesebut. Ini terjadi di abab 17 M – 18 M. Pada abad ini muncul pula Auguste Compte yang mengembangkan ilmu dan metode ilmiah untuk semua bidang. Perkembangan filsafat tidak berhenti sampai di sini, perkembangan filsafat justru semakin pesat. Filsafat memasuki zaman pos modern, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai aliran filsafat, seperti pragmatism (pragmatism adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis), utilitarian (segala sesuatu ditinjau dari segi kebermanfaatan), capitalis, dan hedonism (kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmatan, kesenangan). Selanjutnya filsafat terus berkembang sampai saat ini, yang memasuki zaman pos pos modern. Filsafat saat ini berjalan seiring dengan perkembangan kehidupan. Filsafat bersifat kontekstual. Ada pula aliran filsafat bahasa. Filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat.  Filsafat telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Filsafat sudah dapat diterima dan dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sudah dibuka sekolah-sekolah filsafat, filsafat juga dijadikan sebagai salah satu mata kuliah.

Keywords: Yunani Kuno, Masehi, Zaman kegelapan, Zaman pengerahan, awal zaman modern, zaman modern, zaman pos modern, zaman pos pos modern.
A.    Pendahuluan
Sebelum mempelajari suatu hal, maka hal pertama yang harus diketahui adalah pengertiannya. Pengertian tersebut dapat kita peroleh dari sejarah ataupun perkembangannya dari masa ke masa. Dalam hal ini kita akan mempelajari tentang perkembangan filsafat. Filsafat mengalami perkembangan dan pasang surut. Perkembangan filsafat dimulai dari zaman Yunani Kuno hingga saat ini. Sebelum membahas tentang perkembangan filsafat, kita akan bahas dahulu pengertian filsafat.
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Kata ini merupakan gabungan dari kata kata philia yang berarti persahabatan, cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Sehingga fisafat dapat diartikan sebagai “pencinta kebijaksanaan”Meski istilah philosophia (Φιλοσοφία) pertama kali dimunculkan oleh Pythagoras, namun orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales (640-546 S.M.) dari Mileta. Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani.  Sejak zaman itu filsafat terus mengalami perkembangan. Perkembangan filsafat dapat digolongankan menjadi beberpaa periode. Berikut ini akan dibahas tentang periode perkembangan filsafat, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang terkenal pada periode itu.

B.     Pembahasan
Perkembangan filsafat dapat dibagi dalam beberapa periode, berikut ini akan dibahas periode tersebut beserta tokoh-tokoh yang terkenal pada periode itu.
1.      Yunani Kuno
Yunani Kuno merupakan awal masa perkembangan filsafat. Pada masa ini ahli filsafatnya adalah Thales, Anaximandros, dan Anaximenes yang dianggap sebagai bapak-bapak fisafat dari Mileta. Mereka sudah mulai mempermasalahkan yang dianggap sebagai asal mula segala/unsur induk (arché ) seperti yang dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM) bahwa sumber kehidupan adalah air. Makhluk yang pertama kali hidup adalah ikan dan manusia yang pertama kali terlahir dari perut ikan. sedangkan Anaximander (sekitar 610  -540 SM) berpendapat arché adalah sesuatu “yang tak terbatas”, Anaximenes (sekitar 585 – 525 SM berpendapat “udara” yang merupakan unsur induk dari segala sesuatu.
Setelah mereka bertiga, kemudian muncullah pemikir lain yang lebih berpengaruh lagi terhadap perkembangan fisafat, seperti Parmenides, Plato, Socarates, Heraclitos, dan Aristoteles.
a.       Parmenides
Dalam menjawab tentang asal mula segala sesuatu, ia menyatakan bahwa segala sesuatu itu sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah). Dia mengatakan bahwa kebenaran itu ada yaitu kebenaran yang bulat dan penuh, yang dimaksud di sini adalah Tuhan,caranya dengan menggunakan akal atau logika. Selain itu, dia juga menganut faham monotheisme (Yang ada itu satu dan tetap, yang banyak tidak ada).
Menurut Parmenides, dunia yang nyata ini sebenarnya tidak pernah berubah. Perubahan yang terjadi di alam ini, seperti tumbuhdan layunya pohon, pergantian musim atau kematian adalah ilusi indera-indera kita. Bagi Parmenides kita harus mengikuti ‘jalan kebenaran’(aletheia) yang didapat melalui akal bukan panca indera.
Dalam The Way of truth, Parmadines bertanya: Apa standar kebenaran dan apa ukur realitas? Bagaimana hal itu dapat dipahami? Lalu ia menjawab: Ukurannya ialah logika yang konsisten. Oleh karena itu Parmenides disebut sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat.
b.      Heraclitus
Heraclitus hidup pada sekitar th 500an SM. Dia mengagetkan manusia awam ketika ia berkata bahwa sesungguhnya yang sungguh-sungguh itu ada ,yang hakikat, ialah gerak dan perubahan dan paham relatifisme semakin mempunyai dasar setelah Heraclitus menyatakan engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai iu selalu mengalir.
Menurut heraclitus alam semesta ini dalam keadaan berubah, sehingga kebenaran itu selalu berubah, tidak tetap. Heraclitus mengemukakan bahwa segala sesuatu itu “mengalir” (“panta rhei”) dan berubah terus-menerus.
c.       Socrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relative telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, menggoncangkan keyakinan agam. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacaun kehidupan.Socrates bangkit dan meyakinkan orang-orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relative, ada kebenaran yang umum yang dapat di pegang oleh semua orang. Kehidupan Socrates ( 470 – 399 SM ) berada di tengah –tengah keruntuhan imperium Athena. Socrates menggunakan metode yang bersifat praktis, yaitu melalui percakapan-percakapan dan menganalisis pendapat-pendapat tentang salah dan tidak salah,adil dan tidak adil,berani dan pengecut ,dll.
Metode yang digunakan Socrstes disebut Dialektika, dari kata kerja Yunani ”dialegethai” (bercakap-cakap/dialog). Ada dua penemuan Socrates yang berkenaan dengan pengetahuan, yaitu induksi dan definisi. Induksi yaitu pemikiran yang bermula dari pengetahuan khusus, lalu menyimpulkan yang umum sedangkan definisi yaitu mengupayakan sifat umum kemudian menyisihkan ciri khusus. Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya,tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang-orang sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi.
d.      Plato
Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya. Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah dijumpai dalam matematika.
Plato adalah salah satu dari filsuf besar Yunani yang hidup sekitar abad ke-4 SM. Plato mentransformaiskan pemikirannya ke wilayah religius dengan gagasannya tentang ide dan cinta atau eros sebagai pendorong gerak untuk mencari hakikat dari kehidupan.
e.       Aristoteles
Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain.
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji, dan keabsahan cara berfikir sedangkan dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk menyusun pernyataan yang berlaku universal. Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna.
Masa Yunani kuno dapat diibaratkan dengan gunung-gunung. Maksudnya adalah masa bermunculan para pemikir-pemikir dan aliran filsafat.
2.      Masehi
Mulai abad permulaan masehi, perkembangan filsafat beralih ke Eropa. Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma yang luas sekali. Pemikiran filsafat di Eropa diwarnai dengan unsur-unsur baru (Agama katholik) yang mendominasi pemikiran filsafat pada masa itu.
Masa ini merupakan masa gerejawan membatasi berfilsafat, karena berfilsafat sangat membahayakan bagi agama Kristen khususnya pihak gerejawan. Dan yang ditonjolkan dalam masa ini adalah hubungan antara agama dengan filsafat karena keduanya tidak dapat dipisahkan, dan dengan keduanya manusia akan memperoleh pengetahuan yang lebih jelas.
Pada masa ini terjadi pertentangan antara gereja yang diwakili oleh para pastur dan para raja yang pro kepada gereja, dengan para ulama filsafat. Sehingga pada masa ini filsafat mengalami kemunduran. Para raja membatasi kebebasan berfikir sehingga filsafat seolah-olah telah mati suri. Ilmu menjadi beku, kebenaran hanya menjadi otoritas gereja, gereja dan para raja yang berhak mengatakan dan menjadi sumber kebenaran.
3.      Jaman Kegelapan (Abad 12 M – 13 M)
Filsafat yunani telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban yunani
dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia. Filsafat yunani telah
menyebar dan mempengaruhi berbagai bangsa dianataranya adalah bangsa Romawi,
karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu, sehingga munculah filsafat Eropa yang merupakan penjelmaan dari filsafat Yunani.
Filsafat pada masa ini dapat dikatakan abad kegelapan, karena
pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan
terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin
gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang
bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad
dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati. Pada zaman ini keyakinan Gereja mempercayai bumi sebagai pusat tata surya, sehingga saat Galileo mengemukakan teori Heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat tata surya yang bertentangan dengan keyakinan gereja, maka Galileo mendapat hukuman diasingkan hingga ia meninggal. Bruno seorang pendeta yang mendukung Copernicus juga dihukum mati.
4.      Abad 15M (Zaman Pengerahan)
Adanya temuan Copernicus tentang teori Heliosentris, yaitu matahari sebagai pusat tata Surya mengakibatkan runtuhnya teori Geosentris. Dengan adanya teori ini, maka keberadaan filsafat mulai mengalami pencerahan. Dapat dikatakan bahwa filsafat dalam masa ini ibarat sungai-sungai. Walaupun airnya tak deras, namun sangat bermanfaat.
5.      Abad 16 M (Jaman modern)
Pada masa ini Kristen yang berkuasa dan menjadi sumber otoritas kebenaran mengalami kehancuran. Berbagai pemikiran Yunani muncul, alur pemikiran yang mereka anut adalah rasionalitas, dan empirisrme. Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada dua aliran berbeda yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.  
a.       Aliran rasionalisme oleh Rene Descartes. Ia beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, kebenaran pasti berasal dari rasio (akal).
b.      Aliran empirisme oleh David Hume. Ia meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi.
Perkembangan filsafat pada zaman ini dapat diibaratkan dengan sungai-sungai. Sungai tersebut terus mengalir menuju laut yang artinya terus berkembang menuju kejayaan.
6.      Abad 17-18 M
Aliran rasionalisme dan empirisme adalah dua aliran yang saling bertolak belakang. Untuk menanggulangi perselisihan diantara pengikut aliran tersebut, hadirlah Immanuel Kant. Ia berusaha mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan Kritisisme (aliran yang kritis). Aliran Kritisme Immanuel Kant merupakan gabungan dari dua pendekatan yang bertentangan tersebut. Perkembangan filsafat pada zaman Immanuel Kant dapat diibaratkan dengan muara sungai, karena sudah mengalami sedikit pencerahan menuju kejayaan.
Para murid Kant tidak puas terhadap batas kemampuan akal, alasannya karena akal murni tidak akan dapat mengenal hal yang berada di luar pengalaman. Untuk itu dicari suatu sistem metafisika yang ditemukan lewat dasar tindakan. Aliran ini mulanya dikembangkan oleh Auguste  Comte, yaitu aliran positivism yang menepatkan akal (rasio) pada tempat yang sangat penting. Menurut positivisme pengetahuan tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta. Meskipun positivisme mengandalkan pengalaman dalam mendapatkan pengetahuan, namun mereka membatasi diri pada pengalaman objektif saja.
Menurut Comte pengembangan pengetahuan manusia baik perseorangan maupun umat manusia secara keseluruhan, melalui tiga zaman . Ketiga zaman  itu adalah Zaman Teologis, Zaman Metafisika dan zaman Ilmiah atau Positif.
a.       Zaman Teologis
Pada zaman teologis, manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa - kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala - gejala tersebut. Kuasa - kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari pada makhluk – makhluk insan biasa.
Zaman teologis dibagi lagi menjadi tiga periode berikut :
                                                  i.      Animisme.
Tahap Animisme merupakan tahap paling primitif karena benda-benda dianggap mempunyai jiwa.
                                                ii.      Politeisme.
Tahap Politeisme merupakan perkembangan dari tahap pertama. Pada tahap ini manusia percaya pada dewa.
                                              iii.      Monoteisme.
Tahap Monoteisme ini lebih tinggi dari pada dua tahap sebelumnya, karena pada tahap ini, manusia hanya memandang satu Tuhan sebagai Penguasa.


b.      Zaman Metafisis
Pada zaman ini kekuatan yang tadinya bersifat adi kodrati,diganti dengan kekuatan-kekuatan yang mempunyai pengertian abstrak, yang diintegrasikan dengan alam.
c.       Zaman Positif
Zaman ini dianggap Comte sebagai zaman tertinggi dari kehidupan manusia. Alasanya ialah  pada zaman ini tidak ada lagi usaha manusia untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. Pada zaman inilah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Perkembangan filsafat pada jaman ini dapat diibaratkan dengan pantai atatu bendungan, karena dari yang sebelumnya, fisafat pada zaman ini telah mengalami kemajuan. Seperti hal nya bendungan yang memiliki banyak manfaat, begitu juga filsafat pada zaman ini.

7.      Abad 18 M/19 M (Jaman Pos Modern)
Dalam masa ini perkembangan ilmu rekayasa genetika dan teknologi komputer dan informasi sangat pesat.
a.       Pragmatism
Kata pragmatisme berasal dari bahasa yunani yaitu “pragma” yang berarti tindakan atau perbuatan, “isme” yang  artinya aliran, ajaran atau paham. Jadi pragmatism adalah Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
b.      Utilitarian
Utilitarianisme mengajarkan tiap manusia untuk meraih kebahagiaan (kenikmatan) terbesar untuk orang terbanyak. Karena, kenikmatan adalah satu-satunya kebaikan intrinsik, dan penderitaan adalah satu-satunya kejahatan intrinsik. Pada masa ini dikenal juga asas Manfaat atau Kegunaan, yaitu asas yang menyuruh setiap orang untuk melakukan apa yang menghasilkan kebahagiaan atau kenikmatan terbesar yang diinginkan oleh semua orang untuk sebanyak mungkin. Pada sisi lain, para utilitarian menolak eksperimen-eksperimen scientific tertentu yang melibatkan binatang, karena kebahagiaan atau kenikmatan harus dipelihara untuk semua makhluk.
c.       Capitalis
d.      Hedonism
Hedonisme,menganjurkan manusia untuk mencapai kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmatan, kesenangan. Pelopor aliran ini adalah Cyrenaiccs ( 400 SM) yang menyatakan hidup yang baik adalah memperbanyak kenikmatan malalui kenikmatan indera dan intelak. Sebaliknya Epikurus ( 341 – 270 SM ) menyatakan bahwa kesenangan dankebagian adalah tujuan hidup manusia.
8.      Zaman Pos Pos Modern
Zaman pos pos modern atau zaman kontemporer dimulai pada abad ke 20 hingga sekarang. Filsafat Barat kontemporer memiliki sifat yang sangat heterogen. Sebagian besar filsuf adalah spesialis di bidang khusus, seperti matematika, fisika, sosiologi, dan ekonomi. Akan tetapi bidang fisika menempati kedudukan paling tinggi dan paling banyak dibicarakan oleh para filsuf.
Filsafat bahasa salah satu aliran filsafat yang berkembang pada masa pos pos modern. Filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik.
Perkembangan filsafat pada masa ini dapat diibaratkan dengan laut dalam. Filsafat telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ibarat laut dalam, maka airnya tenang, begitu juga dengan filsafat pada zaman ini. Filsafat sudah dapat diterima dan dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sudah dibuka sekolah-sekolah filsafat, filsafat juga dijadikan sebagai salah satu mata kuliah.
C.    Penutup
Kesimpulan
Ilmu filsafat yang kita kenal selama ini terus mengalamai perkembangan. Perkembangan filsafat dimulai saat zaman Yunani Kuno dengan tokoh yang terkenal adalah Parmenides dengan aliran tetap, Heraclitus dengan aliran berubah, Socrates dengan aliran dialectic, Plato dengan aliran idealisme, dan Aristoteles dengan aliran realisme. Perkembangan selanjutnya yaitu masa Masehi dan kegelapan, dimasa itu filsafat mengalami kemunduran karena terkekang oleh kaun gerejawi. Berikutnya perkembangan filsafat memasuki masa pengerahan (abad 15 M) yang ditandai dengan munculnya Copernicus dengan teori Heliosentris yang mematahkan keyakina kaum gerejawi.
Keberadaan ilmu filsafat mulai berkembang lagi. Kemudian memasuki awal zaman modern, yaitu abad 16 M, muncullah Rene Descartes dengan aliran realisme (kebenaran berasal dari akal) dan David Hume dengan aliran Empirisme (kebenaran berasal dari pengalaman). Kedua aliran ini saling bertentangan sehingga mendorong munculnya aliran baru yang memadukan kedua aliran tersebut, yaitu Kritisme oleh Immanuel Kant. Peristiwa ini merupakan memasukinya filsafat pada zaman modern (17M- 18M), lalu muncul pula Auguste Compte dengan metode ilmiah untuk berbagai bidang. Ia mencetuskan paham positivisme, yaitu paham yang menggunakan kebenaran harus dilandasi fakta-fakta. Memasuki zaman pos modern ditandai dengan munculnya aliran-aliran baru, seperti aliran pragmatism, utilitarian, capitalism, dan hedonism.Perkembangan filsafat yang berikutnya adalah masa pos pos modern, yaitu memasuki abak 20 hingga sekarang ini. Filsafat aat ini telah menyatu dan berjalan beriringan dengan kehidupan manusia.

D.    Daftar Pustaka
Anonim. 2012. [online] available at http://www.scribd.com/doc/50644767/Pengantar-Filsafat-Filsafat-Dan-Ilmu. diakses pada 13 Oktober 2012.

Anonim. 2012. [online] available at http://www.scribd.com/doc/98145018/Filsafat-Alam-Untuk-Pemula-Final. diakses pada 13 Oktober 2012.

Wikipedia. 2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat. diakses pada 13 Oktober 2012

Wikipedia. 2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_bahasa. diakses pada 14 Oktober 2012

Wikipedia. 2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte. diakses pada 13 Oktober 2012.

Wikipedia. 2012. [online] available at http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Copernicus#Menelurkan_teori_yang_revolusioner.diakses pada 14 Oktober 2012.